Hanya dalam waktu dua hari pascapeluncuran, ChatHPT, platform kecerdasan buatan (AI) terbaru milik Muhammadiyah, langsung diserbu puluhan ribu pertanyaan dari umat.
Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informatika (MPI) PP Muhammadiyah, Ismail Fahmi, mengungkapkan bahwa topik ibadah harian mendominasi interaksi pengguna pada platform tersebut.
Berdasarkan analisis data yang dibagikan Ismail Fahmi via akun Facebook pribadinya, Sabtu (7/11/2026), isu tata cara ibadah menempati posisi teratas.
“Topik salat, mulai dari tata cara, jumlah rakaat, hingga sujud, muncul dalam 8.239 pertanyaan atau 16,2 persen dari total interaksi. Angka ini lebih dari tiga kali lipat dibandingkan topik di peringkat kedua,” jelas Ismail.
Ia menambahkan, lima besar pembahasan yang paling sering ditanyakan seluruhnya berkisar pada fikih harian. Setelah salat, posisi berikutnya berturut-turut diisi oleh topik salat Jumat dan khotbah (2.520 pertanyaan); zikir, doa, dan shalawat (2.366); wudu, thaharah, dan najis (2.188); serta imam, makmum, dan salat berjamaah (1.813).
Muamalah Digital hingga Isu Tarjih Khas
Menariknya, isu-isu modern juga mendapat perhatian besar dari masyarakat. Topik muamalah digital dan AI bertengger di peringkat ketujuh dengan 1.555 pertanyaan, sedikit di atas bahasan nikah, talak, dan rujuk (1.543), serta muamalah, riba, dan bisnis (1.524).
“Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat modern tidak hanya mencari panduan ibadah ritual, tetapi juga membutuhkan pedoman keagamaan dalam menjalani kehidupan digital sehari-hari,” ujarnya.
Selain itu, tema-tema khas diskursus Tarjih tetap mencuat, di antaranya hukum rokok dan tembakau (779 pertanyaan), qunut (717), kalender Hijriah dan penentuan hari raya (478), hingga isu politik dan kebangsaan (467).
Ismail mencatat, satu pertanyaan bisa mengiris lebih dari satu kategori topik sehingga total persentase tidak selalu genap 100 persen.
Memproses 8 Miliar Token
Tingginya antusiasme publik berdampak langsung pada beban kerja sistem backend ChatHPT. Sepanjang 5–6 November 2026, platform ini telah memproses hingga 7,94 miliar token.
Ismail menjelaskan, volume tersebut terdiri dari 7,76 miliar token masukan (input) dan 179 juta token keluaran (output). Artinya, untuk menghasilkan satu token jawaban, sistem membaca sekitar 43 token masukan yang mencakup instruksi, riwayat percakapan, serta penelusuran naskah rujukan.
“Perbandingan ini sesuai dengan perancangan awal ChatHPT. Jawaban tidak diracik dari ingatan model AI semata, melainkan hasil penelusuran langsung dari naskah Himpunan Putusan Tarjih, Fatwa Tarjih, dan Tanya Jawab Agama,” tegasnya.
Alat Bantu Rujukan, Bukan Fatwa Resmi
ChatHPT dikembangkan oleh MPI PP Muhammadiyah berkolaborasi dengan LabMu untuk mendukung kebutuhan Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah.
Menghadapi tren pengguna yang terus meningkat, Ismail menegaskan tantangan utama ke depan adalah menjaga stabilitas sistem dan kualitas jawaban. Ia juga mengingatkan bahwa ChatHPT berkedudukan sebagai alat bantu literasi khazanah Tarjih, bukan sebagai penentu hukum atau pembuat fatwa resmi.
“Untuk persoalan hukum keagamaan yang membutuhkan kepastian, warga tetap dianjurkan merujuk langsung pada naskah putusan resmi dan berkonsultasi langsung dengan Majelis Tarjih,” pungkasnya. (*/tim)
