Setiap orang tua pasti berharap agar mendapat pengasuhan yang terbaik dan maksimal untuk buah hatinya. Tidak hanya orang tua, kakek nenek pun juga pasti menginginkan cucunya tumbuh dan berkembang menjadi anak cerdas, sehat dan berbakti.
Namun, dipandang perlu untuk kita rumuskan kembali. Apa itu pola asuh? Agar fokus dan tidak terjadi mispersepsi. Menurut kamus besar Bahasa indonesia (KBBI) polah asuh adalah cara atau sistem orang tua dalam merawat, mendidik dan membimbing seorang anak.
Dalam sebuah keluarga, orang tua adalah yang paling berperan dalam membuat pola asuh. Sehingga pengertian pola asuh keluarga sama dengan pola asuh orang tua.
Namun dalam perjalanan, ketika sang anak tumbuh dewasa dan ketika tiba waktunya menikah dan mempunyai sang buah hati. Mereka lengkaplah memiliki keluarga inti, ada kakek, nenek, bapak ibu anak atau cucu. Namun seiring berkembangnya sang waktu anak/cucu ketika sudah mulai tumbuh lucu, menggemaskan kadang mengkhawatirkan. Pada saat itu pula sering terjadi adanya sikap dan interaksi serta pola asuh yang terkadang atau sering bertolak belakang antara kakek nenek dengan anak/orang tuanya sendiri.
Dalam tinjauan psikologi, para pakar membagi pola asuh ada empat macam antara lain:
1.Pola Asuh OTORITATIF (demokratis)
- Orang tua menetapkan aturan yang jelas, tetapi hangat dan suportif.
- Ada komunikasi dua arah dan ruang bagi anak untuk berpendapat.
- Anak didorong untuk mandiri dan bertanggung jawab atas pilihannya.
- Pola asuh OTORITER
- Orang tua sangat kaku, menuntut dan memberi kontrol penuh.
- Anak harus patuh mutlak tanpa boleh membantah atau bertanya.
- Lebih mengandalkan hukuman daripada diskusi.
- Cenderung membuat anak menjadi penakut, rendah diri dan kurang mandiri.
- Pola Asuh PERMISIF
- Orang tua sangat hangat dan penuh kasih, tetapi sedikit atau hampir tidak memberi aturan batasan.
- Cenderung menuruti semua keinginan/ kemauan anak.
- Jarang memberikan hukuman atau menegur perilaku buruk anak.
- Membuat anak rentan menjadi egois, sulit mengatur diri dan kurang disiplin saat dewasa.
- Pola asuh Abai
- Orang tua minim memberikan perhatian, kehangatan maupun pengawasan.
- Kebutuhan fisik atau emosional anak sering tidak terpenuhi dengan baik.
- Orang tua terlalu sibuk dengan urusan sendiri.
- Membuat anak merasa tidak disayang, memiliki harga diri rendah dan bermasalah dalam mengontrol emosi.
Pola asuh yang sering muncul dan terjadi di masyarakat oleh kakek nenek adalah cenderung pola asuh permisif (serba boleh). Hal ini senada dengan hasil riset. Yang dilakukan oleh A’isyah Hilal dkk yang diunggah pad jurnal IICLS (https://www.iicis.org) hasil analisis persentase menunjukkan bahwa pola asuh demokratis memiliki persentase tertinggi sebesar 33,65% diikuti pola asuh permisif sebesar 33,46% dan pola asuh otoriter sebesar 32,90.
Walau pola asuh permisif di urutan ke dua dalam hasil riset, hal tersebut menunjukkan angka yang besar karena pola tersebut pola asuh yang kurang bagus untuk tumbuh kembang anak. Bahkan dalam usia tertentu pola asuh permisif hasilnya sangat tinggi.
Dengan demikian semakin baik pola asuh yang diterapkan oleh orang tua, maka semakin tinggi tingkat kemandirian anak.
Apa ciri khas pola Asuh permisif itu? Ada beberapa ciri yang sering muncul pada pola asuh tersebut antara lain;
- Aturan kurang jelas atau tidak konsisten
- Minim penerapan konsekuensi
- Kebebasan tinggi tanpa tanggung jawab.
- Mengandalkan hadiah sebagai motivasi.
- Kurang memahami batasan dan otoritas
- Rutinitas tidak teratur.
Apa dampak pola asuh permisif? Dampak pola asuh permisif:
- Anak lebih mudah frustasi dan kesulitan mengendalikan emosi saat menghadapi tekanan atau aturan.
- Anak tidak terbiasa membuat keputusan atau menyelesaikan tugas secara mandiri.
- Anak cenderung egois dan impulsif tanpa mempertimbangkan orang lain atau menunda keinginan.
- Anak beresiko mengalami kesulitan beradaptasi di sekolah atau lingkungan sosial yang memiliki aturan jelas.
- Anak tidak terbiasa menghadapi tantangan sehingga lebih cepat menyerah saat menemui kesulitan.
- Rasa percaya diri tidak terbentuk, sehingga proses atau pencapaian mudah goyah.
Bila kita sudah menyadari akan dampak pada pola asuh permisif yang dapat mengganggu tumbuh kembang dan masa depan anak, maka kita harus mencari solusi yang dapat kita tempuh sebagai jalan keluar agar ada perubahan yang lebih baik seperti yang kita harapkan.
Adapun solusinya adalah orang tua perlu mulai menerapkan batasan yang jelas, bersikap konsisten pada aturan. Melatih anak bertanggung jawab atas tindakan mereka serta menyeimbangkan kehangatan kasih sayang dengan kedisiplinan yang tegas.
Sebab hanya dengan langkah tersebut anak makin faham akan jatidiri sehingga makin bagus akan tumbuh kembang sang anak dalam proses internalisasi untuk menata masa depan yang lebih bermakna. Semoga Allah Swt senantiasa memberi kekuatan dan kesabaran dalam membimbing dan mengasuh putra putri menjadi lebih baik. (*)
