Berkah Itu Ketika Sedikit Terasa Mencukupi

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Ada orang yang penghasilannya pas-pasan, tetapi hidupnya tenang dan cukup. Namun, ada yang penghasilannya berlimpah, tetapi hatinya gelisah dan hartanya seolah menguap begitu saja. Mengapa?

Al-Quran menjawabnya dengan satu kata yang sering diucapkan, namun jarang dipahami maknanya secara utuh: berkah.

Berkah diraih oleh orang yang tenang biasanya memiliki sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang ada dan bersyukur. Mereka tidak menyiksa diri dengan membandingkan hidupnya dengan orang lain. Keinginan yang tidak ada habisnya membuat hati selalu gelisah karena terus mengejar apa yang belum dimiliki.

Secara bahasa, berkah berasal dari kata baraka–yabriku, yang bermakna an-namā’ wa ziyādah, tumbuh dan bertambah. Ia juga mengandung makna tetap dan menetap, seperti air di telaga yang tenang, tidak mengalir pergi, namun menghidupi sekelilingnya.

Secara istilah, berkah adalah kebaikan yang Allah tetapkan pada sesuatu sesuai kehendak-Nya. Kadang hadir tanpa disangka, tidak terukur secara matematis. Kehadirannya terasa nyata dalam ketenangan, kecukupan, dan keberlanjutan. Inilah sebabnya rezeki yang sedikit bisa terasa cukup, sementara yang banyak bisa terasa tidak pernah menenangkan.

Dengan demikian, keberkahan bukan soal angka, melainkan soal kebaikan di baliknya. Terkait hal ini, Syeikh Mutawalli Asy-Sya’rawi menggambarkannya berkah sebagai pasukan Allah nan tersembunyi yang dikirimkan kepada hamba yang dikehendaki-Nya.

Saat singgah pada harta, dia menjadi banyak manfaatnya. Saat singgah pada anak, dia menjadi saleh. Saat singgah pada tubuh, dia menjadi kuat. Saat singgah pada waktu, dia menjadi berkah umurnya. Dan, manakala singgah di hati, dia menjadi bahagia.”

Al-Quran menegaskan, keberkahan dari langit dan bumi akan dicurahkan kepada suatu negeri jika penduduknya beriman dan bertakwa (QS Al-A’raf, 7:96).

Kisah berkah dalam kehidupan sehari-hari

  • Pertama, Berkah dalam Keturunan: Sarah, istri Nabi Ibrahim as. yang telah lanjut usia, dianugerahi putra bernama Ishaq melalui rahmat dan keberkahan Allah (QS Hud, 11:73). Karena itu, nikmat keluarga selayaknya disikapi dengan syukur, bukan sekadar kebanggaan (QS Ali ‘Imran, 3:14).
  • Kedua, Berkah dalam Rezeki dan Makanan: Islam membolehkan menikmati rezeki, tetapi melarang berlebihan (QS Al-A’raf, 7:31). Rezeki yang berkah apabila sedikit, dia akan mencukupi. Adapun kalau banyak, manfaatnya akan meluas. Intinya, keberkahan mengubah kuantitas menjadi kualitas. Rezeki sedikit menjadi penenteram jiwa, rezeki banyak menjadi jalan ibadah dan sosial.
  • Ketiga, Berkah dalam Waktu: Siapa pun yang mampu memanfaatkan waktunya dengan iman dan kedermawanan, Allah janjikan kemudahan dan balasan yang baik (QS Al-Lail, 92:5–7). Sebagian orang mampu menghasilkan banyak kebaikan dalam waktu yang singkat, karena waktunya diberkahi.

Faktor Pendukung Keberkahan Waktu

  • Niat yang Tulus: Memulai setiap aktivitas dengan niat ibadah atau berbuat kebaikan untuk sesama.
  • Bangun Lebih Awal: Memanfaatkan waktu subuh atau pagi hari (waktu baku), yang dipercaya penuh dengan berkah.
  • Menjaga Hubungan dengan Pencipta: Mengutamakan kewajiban spiritual (seperti salat tepat waktu) justru sering kali membuat urusan duniawi selesai lebih cepat dan mudah.
  • Fokus dan Manajemen Diri: Menghindari hal-hal sia-sia (laghwun) dan fokus pada hal yang memberi dampak nyata.
  • Berbakti dan Silaturahmi: Berbuat baik kepada orang tua dan menjaga silaturahmi dipercaya dapat memperluas rezeki, termasuk rezeki berupa waktu yang lapang. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search