Tantangan dakwah di era modern tidak lagi terbatas pada mimbar konvensional, melainkan telah merambah ke ruang digital. Menyadari urgensi tersebut, Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) membekali para pesertanya dengan materi jurnalistik dan dakwah digital pada Sabtu (20/6/2026) di Probolinggo. Langkah ini diambil untuk mencetak kader mubaligh yang tidak hanya fasih berdakwah secara lisan, tetapi juga piawai dalam menyebarkan syiar lewat tulisan.
Hebatnya, pelatihan ini tidak sekadar teori. Sebanyak puluhan peserta AMM yang berasal dari zona dakwah Tapal Kuda langsung ditantang untuk melakukan praktik menulis, salah satunya membuat lead (kepala) berita. Hasilnya pun luar biasa. Hanya dalam waktu 20 menit setelah materi dipaparkan, hampir seluruh peserta sudah mampu merangkai lead berita yang apik, terstruktur, dan menarik.
Editor majelistabligh.id, Chusnun Hadi, yang hadir sebagai pemateri, mengaku sangat terkesan dengan potensi para kader muda ini. Menurutnya, talenta-talenta dari Tapal Kuda tersebut tampak sudah memiliki fondasi dasar jurnalistik yang kuat, terlihat dari kelancaran mereka saat mengeksekusi tugas praktik.
“Mereka memiliki potensi besar dan sangat lancar saat praktik penulisan berita. Yang mereka butuhkan saat ini adalah wadah yang konsisten untuk mengekspresikan tulisan-tulisan mereka di media massa maupun platform digital,” ujar Chusnun.
Menangkal Badai Hoaks di Dunia Maya
Selain diajarkan teknik merangkai kata, para peserta juga dibekali dengan kemampuan krusial: literasi digital berupa cara mengidentifikasi dan menangkal berita bohong (hoaks). Mereka diajak membedakan secara jeli mana informasi yang benar-benar memiliki nilai berita (news value) dan mana yang sengaja diproduksi untuk memicu disinformasi.
Langkah ini dinilai sangat strategis. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), jumlah sebaran isu hoaks di Indonesia masih fluktuatif di angka ribuan kasus per tahun, di mana platform media sosial dan aplikasi pesan singkat menjadi sarang utama penyebaran. Di sinilah peran mubaligh digital diuji untuk menjadi filter dan pembawa kejernihan informasi di tengah masyarakat.
Kunci Menulis: Membaca Fenomena Alam
Untuk menjaga konsistensi dan mempertajam kualitas tulisan, Chusnun Hadi membagikan resep utamanya kepada para peserta, yaitu memperbanyak membaca. Namun, ia menekankan bahwa membaca jangan diartikan secara sempit.
“Kunci utama untuk bisa menulis yang baik adalah dengan banyak membaca. Dalam hal ini, membaca bukan sekadar mengeja huruf demi huruf di atas kertas, tetapi harus mampu membaca semua fenomena alam, sosial, dan lingkungan di sekitar kita,” jelas Chusnun.
Ia menambahkan sebuah diktum penting dalam dunia literasi: “Semakin banyak membaca, akan semakin pintar pula kita menulis.”
Dengan modal kemampuan lead yang sudah bagus, para peserta AMM kini tinggal selangkah lagi untuk terus mengembangkan keterampilan mereka. Melalui sinergi antara kemampuan dakwah dan kemahiran jurnalistik, para mubaligh muda Muhammadiyah ini diharapkan mampu membanjiri ruang digital dengan konten-konten yang mencerahkan, edukatif, dan bebas dari hoaks. || chusnun
