Wawancara Imajiner dengan Bung Karno

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Di suatu ruang tanpa waktu, di antara kepulan asap cerutu dan gemuruh sejarah, Sang Proklamator, Bung Karno, duduk menegap. Matanya masih menyala. Kami bertanya. Ia menjawab.

***

“Bung, sebagai Bapak Proklamator, apakah Bung puas dengan kondisi bangsa ini?”

Bung Karno tersenyum getir, lalu menggeleng pelan. “Puas? Tidak. Tidak pernah. Kemerdekaan bukan garis finis, ia garis start. Saya membayangkan Indonesia sebagai mercusuar. Bukan kapal yang terombang-ambing di dermaga. Ada kemajuan, saya akui. Tapi jiwa bangsa ini masih sering tertidur. Dan bangsa yang tidur, mudah sekali dijajah kembali. Bukan oleh bendera asing, melainkan oleh kebodohan dan keserakahan sendiri.”

“Di usia ke-81 tahun, apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka?”

“Merdeka dari Belanda, ya. Merdeka dari rasa takut? Belum seluruhnya. Merdeka dari kemiskinan struktural? Masih separuh jalan. Kemerdekaan sejati adalah ketika seorang anak di pelosok Papua dan seorang anak di Jakarta memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi. Selama itu belum tercapai, kemerdekaan kita masih on going, belum done.”

“Dari Pak Harto hingga Prabowo, bagaimana Bung melihat peran mereka?”

Ia lagi-lagi menghembuskan asap cerutu. “Setiap pemimpin adalah anak zamannya. Harto membangun fondasi ekonomi, tapi juga membelenggu kebebasan. Habibie membuka pintu demokrasi yang nyaris runtuh. Gus Dur mengajarkan kita bahwa negara ini milik semua, bukan satu golongan. Megawati menjaga konstitusi di masa rapuh. SBY menenangkan badai dengan ketenangan seorang jenderal. Jokowi membawa semangat kerakyatan ke istana. Prabowo kini mengemban amanah di tengah dunia yang makin bergejolak. Mereka semua, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, adalah mata rantai. Jangan putuskan satu pun.”

“Apakah kemerdekaan ini sudah dinikmati seluruh warga?”

Matanya menajam. “Belum. Masih ada petani yang menjual gabah dengan harga yang tak menghidupkan. Masih ada nelayan yang lautnya dirampas. Kemerdekaan belum masuk ke dapur-dapur mereka. Itu dosa kita bersama.”

“Mengapa korupsi masih menjadi penyakit kronis?”

“Karena kita belum selesai membangun manusia Indonesia. Kita sibuk membangun gedung, tapi lupa membangun jiwa. Korupsi bukan soal hukum semata, tapi soal mentalitas feodal yang belum kita kubur. Selama jabatan dianggap hak, bukan amanah, korupsi akan terus beranak-pinak.”

“Kapan rakyat bicara dan pemerintah mendengar?”

“Rakyat harus selalu bicara. Dan pemerintah harus selalu mendengar. Bukan sebaliknya. Demokrasi bukan pesta lima tahunan. Ia napas sehari-hari. Jika pemerintah hanya mendengar menjelang pemilu, itu bukan demokrasi. Itu sandiwara.”

“Pesan Bung untuk bangsa ini?”

Ia berdiri. Suaranya menggelegar, seperti di podium tahun 1945. “Jadilah bangsa yang besar. Bukan karena luas wilayahnya, bukan karena jumlah penduduknya, tapi karena keberanian berpikirnya. Jangan jadi bangsa pengekor. Jangan jadi bangsa penonton. Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Dan ingat: kemerdekaan ini dibayar dengan darah. Jangan kau gadaikan dengan harga murah.”

Ia lalu terdiam. Cerutunya padam. Tapi apinya, masih menyala.

Catatan: Wawancara ini sepenuhnya imajiner, sebuah refleksi dalam rangka 81 tahun Kemerdekaan Indonesia.

 

Tinggalkan Balasan

Search