Dampak Asap Karhutla Memburuk, Muhammadiyah Dirikan Rumah Oksigen

Relawan Muhammadiyah Kalteng memberi bantuan oksigen pada warga yang terpapar asap karhutla. (ist)
www.majelistabligh.id -

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Tengah bergerak cepat meluncurkan aksi tanggap bencana melalui konsorsium One Muhammadiyah One Response (OMOR), yang mengintegrasikan Lembaga Resiliensi Bencana (MDMC) dan Lazismu.

Sekretaris MDMC Kalimantan Tengah, Evan Bastian, memastikan para relawan telah diterjunkan ke titik-titik krusial seperti Kota Palangka Raya dan Kabupaten Kotawaringin Timur. Kendati demikian, faktor keselamatan personel tetap menjadi orientasi utama.

“Kami menegaskan kepada seluruh relawan untuk selalu mematuhi prosedur, memakai alat pelindung diri, dan berkoordinasi erat dengan komando BPBD. Jangan memaksakan diri jika kondisi dinilai berisiko tinggi,” tegas Evan.

Selain menerjunkan tim pemadaman dan pendinginan lahan, Muhammadiyah berfokus meminimalisasi dampak kesehatan bagi warga terdampak. Ketua Lazismu Kalteng, Muhammad Fitriani, menjelaskan bahwa program “Indonesia Siaga” telah mengaktifkan berbagai layanan darurat.

Di antaranya adalah penyediaan Rumah Singgah Oksigen di Gedung Dakwah Muhammadiyah Kalteng dan Kotawaringin Timur, armada mobil oksigen keliling di pusat keramaian serta area pemadaman, pembagian masker, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga penyaluran asupan nutrisi dan vitamin bagi petugas di lapangan.

Koordinator Relawan Lazismu Kalteng, Anang Rahman, menambahkan bahwa aksi sigap ini merupakan wujud kepedulian sosial sekaligus pengejawantahan dakwah kemanusiaan.

Makin Mengkhawatirkan

Ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan kian mengkhawatirkan. Memasuki puncak musim kemarau, kabut asap tebal kembali mengepung permukiman warga dan memicu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data Sipongi Kementerian Kehutanan yang mencatat setidaknya 7.634,46 hektar lahan di Kalimantan Tengah telah hangus terbakar. Sementara itu, pantauan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendeteksi 5.168 titik api dalam 24 jam terakhir.

Sayangnya, kapasitas penanganan di lapangan masih tergolong minim. Hingga data dirilis, pemadaman jalur darat baru berhasil menjangkau 17,55 hektar lahan. Pemerintah juga menurunkan satu unit patroli udara untuk melakukan lima kali operasi pengeboman air (water bombing).

Muhammadiyah berkomitmen terus bersinergi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan hingga krisis kabut asap ini teratasi. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search