#Dialog Robert Sapolsky, Teologi Asy’ariyah, dan Maturidiyah tentang Kebebasan, Ikhtiar, dan Tanggung Jawab Manusia
Manusia: Makhluk Bebas atau Produk Sebab-Akibat?
Apakah manusia sungguh-sungguh bebas menentukan jalan hidupnya? Ataukah kebebasan yang selama ini kita banggakan hanyalah perasaan subjektif, sementara seluruh keputusan kita sesungguhnya merupakan hasil dari rangkaian sebab-akibat yang mendahuluinya?
Pertanyaan ini menjadi pokok pemikiran Robert M. Sapolsky dalam bukunya Determined: A Science of Life Without Free Will (2023).
Melalui pendekatan neurosains, biologi, dan perilaku, Sapolsky mengajukan tesis yang menggugat keyakinan konvensional tentang kehendak bebas. Menurutnya, tindakan manusia tidak muncul dari ruang kosong. Ada genetik, hormon, struktur otak, pengalaman masa kecil, pola pengasuhan, lingkungan sosial, kebudayaan, hingga kondisi sesaat sebelum seseorang mengambil keputusan.
Seseorang tidak memilih gen yang diwarisinya. Ia tidak menentukan keluarga tempat dilahirkan, lingkungan yang membesarkannya, atau pengalaman traumatis yang mungkin membentuk kepribadiannya. Namun, semua faktor tersebut ikut memengaruhi perilaku dan keputusan hidupnya.
Jika demikian, siapa sebenarnya yang menentukan pilihan manusia?
Pertanyaan Sapolsky membawa kita pada persoalan yang jauh lebih tua daripada perkembangan neurosains: hubungan antara kebebasan manusia dan kekuasaan Tuhan.
Dalam Islam, persoalan ini dikenal melalui konsep qada dan qadar, ikhtiar, serta tanggung jawab manusia di hadapan Allah.
Menariknya, perdebatan tersebut telah berlangsung berabad-abad dalam tradisi pemikiran Islam. Karena itu, dialog antara Sapolsky dan teologi Islam bukan sekadar pertemuan sains dengan agama, tetapi juga kesempatan untuk membaca kembali warisan intelektual Islam.
1. Determinisme Sapolsky: Tidak Ada Kebebasan yang Berdiri Sendiri
Inti pemikiran Sapolsky adalah penolakan terhadap free will dalam pengertian bahwa manusia merupakan penyebab pertama yang sepenuhnya mandiri atas tindakannya.
Baginya, keputusan manusia selalu memiliki latar belakang kausal.
Ketika seseorang marah, misalnya, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa ia memilih untuk marah. Kita perlu melihat kondisi biologis, pengalaman psikologis, pendidikan keluarga, tekanan lingkungan, dan situasi yang sedang dihadapinya.
Begitu pula ketika seseorang melakukan kejahatan. Perilakunya perlu dipahami melalui berbagai faktor yang membentuk dirinya.
Pandangan ini mengandung implikasi etis yang besar. Sapolsky mempertanyakan penghukuman yang didasarkan semata-mata pada gagasan bahwa seseorang sepenuhnya layak menerima penderitaan sebagai pembalasan atas pilihannya.
Namun, bukan berarti masyarakat harus membiarkan kejahatan. Perlindungan masyarakat, pencegahan, rehabilitasi, dan perubahan lingkungan tetap diperlukan.
Di sini terdapat sumbangan penting Sapolsky: sebelum menghakimi seseorang, pahami dahulu faktor-faktor yang membentuk perilakunya.
Tetapi, apakah penjelasan biologis dan sosial tersebut otomatis menghapus tanggung jawab moral?
Pertanyaan inilah yang menjadi titik perbedaan antara determinisme Sapolsky dan teologi Islam.
2. Asy’ariyah: Kekuasaan Allah dan Konsep Kasb
Dalam tradisi teologi Islam, Abu al-Hasan al-Asy’ari mengembangkan pemikiran yang berusaha mempertahankan dua prinsip sekaligus: kemahakuasaan Allah dan tanggung jawab manusia.
Allah adalah pencipta segala sesuatu. Tidak ada peristiwa yang berada di luar kehendak dan kekuasaan-Nya.
Namun, manusia juga tidak dipandang sebagai makhluk yang sama sekali kehilangan keterkaitan dengan perbuatannya.
Untuk menjelaskan hubungan tersebut, Asy’ariyah mengembangkan konsep kasb atau perolehan perbuatan.
Secara sederhana, perbuatan manusia diciptakan Allah, sedangkan manusia memperoleh atau melakukan perbuatan tersebut melalui kehendak dan kemampuan yang diberikan Allah.
Konsep ini berusaha menghindari dua ekstrem: menganggap manusia sepenuhnya independen dari Allah, atau menganggap manusia tidak memiliki tanggung jawab sama sekali.
Dalam perspektif ini, kebebasan manusia bukan kebebasan mutlak. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, tidak menguasai seluruh kondisi kehidupannya, dan tidak memiliki kekuasaan yang terlepas dari kehendak Allah.
Akan tetapi, manusia tetap berada dalam wilayah pertanggungjawaban moral.
Di sinilah terdapat persoalan filosofis yang menarik. Bagaimana manusia dapat dimintai pertanggungjawaban apabila perbuatannya juga berada dalam penciptaan Allah?
Konsep kasb merupakan salah satu jawaban teologis terhadap persoalan tersebut, meskipun penjelasan mengenai hubungan antara penciptaan Allah dan perolehan manusia terus menjadi bahan perdebatan di kalangan pemikir Islam.
