3. Maturidiyah: Mengakui Takdir, Mempertahankan Ikhtiar
Jika Asy’ariyah memberikan penekanan kuat pada konsep kasb, tradisi Maturidiyah memberikan perhatian penting pada kemampuan dan pilihan manusia.
Abu Mansur al-Maturidi menegaskan bahwa kekuasaan Allah meliputi seluruh kehidupan, tetapi manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan melakukan perbuatannya.
Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri ataupun berdiri di luar kekuasaan Allah. Namun, manusia memiliki kehendak dan kemampuan yang menjadi dasar pertanggungjawaban moral.
Dalam kerangka Maturidiyah, manusia tidak dapat menggunakan takdir sebagai alasan untuk membenarkan perbuatan buruk.
Seseorang yang melakukan korupsi tidak dapat begitu saja mengatakan bahwa perbuatannya sudah ditentukan Tuhan. Ia tetap harus mempertanggungjawabkan tindakan tersebut.
Begitu pula seseorang yang berjuang memperbaiki kehidupan tidak boleh merasa bahwa keberhasilannya semata-mata merupakan hasil kekuatan dirinya sendiri. Ada keterbatasan manusia, tetapi ada pula ruang ikhtiar.
Perspektif Maturidiyah ini penting karena memberikan keseimbangan antara ketergantungan manusia kepada Allah dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupannya. Dengan demikian, takdir bukanlah pembatalan ikhtiar.
4. Di Mana Letak Perbedaan Ketiganya?
Untuk memahami perbedaannya, kita dapat melihat tiga pertanyaan mendasar.
Pertama, siapa yang menentukan tindakan manusia?
Sapolsky menjelaskan tindakan melalui rangkaian sebab-akibat biologis dan lingkungan. Asy’ariyah menempatkan penciptaan perbuatan dalam kekuasaan Allah melalui konsep kasb. Maturidiyah mengakui kekuasaan Allah sekaligus kemampuan dan pilihan manusia.
Kedua, apakah manusia memiliki kebebasan?
Sapolsky menolak kehendak bebas dalam pengertian yang tidak ditentukan oleh sebab-sebab sebelumnya. Asy’ariyah mengakui tanggung jawab melalui kasb, sedangkan Maturidiyah memberikan penekanan lebih kuat pada kemampuan manusia untuk memilih dan bertindak.
Ketiga, apakah manusia bertanggung jawab atas tindakannya?
Sapolsky menolak dasar penghukuman sebagai pembalasan moral yang mengandaikan kebebasan mutlak. Sebaliknya, kedua tradisi teologi Islam tetap mempertahankan pertanggungjawaban manusia, meskipun dengan penjelasan teologis yang berbeda.
Dengan demikian, ketiganya tidak dapat disamakan begitu saja.
Sapolsky bergerak dari penjelasan ilmiah tentang kausalitas menuju kesimpulan filosofis mengenai ketiadaan kehendak bebas. Sementara itu, Asy’ariyah dan Maturidiyah membahas persoalan tersebut dalam kerangka hubungan antara kehendak Allah, kemampuan manusia, dan tanggung jawab moral.
5. Apakah Neurosains Bertentangan dengan Takdir?
Menurut saya, tidak perlu terburu-buru mempertentangkan keduanya.
Neurosains menjelaskan bagaimana otak bekerja, bagaimana pengalaman membentuk perilaku, dan bagaimana faktor biologis serta lingkungan memengaruhi keputusan.
Sementara itu, teologi Islam membicarakan kedudukan manusia dalam hubungan dengan Allah, makna ikhtiar, tanggung jawab moral, dan kehidupan akhirat.
Keduanya memiliki wilayah pertanyaan yang berbeda, meskipun dapat bersinggungan.
Penemuan bahwa keputusan manusia dipengaruhi kondisi otak tidak otomatis membuktikan bahwa manusia tidak memiliki tanggung jawab moral. Sebaliknya, keyakinan terhadap takdir juga tidak mengharuskan kita menolak temuan ilmiah tentang pengaruh biologis dan lingkungan.
Ada satu hal yang perlu diperhatikan: mengetahui penyebab sebuah tindakan tidak sama dengan membenarkan tindakan tersebut.
Orang yang melakukan kekerasan mungkin memiliki pengalaman traumatis. Seseorang yang terlibat kejahatan mungkin tumbuh dalam lingkungan yang buruk. Semua itu penting untuk dipahami dalam proses penegakan hukum dan rehabilitasi.
Namun, memahami penyebab tidak berarti menghilangkan kewajiban melindungi korban dan menegakkan keadilan.
Di sinilah dialog antara neurosains dan teologi Islam dapat memberikan kontribusi bagi kemanusiaan.
