6. Takdir, Kemiskinan, dan Ketidakadilan Sosial
Persoalan ini bahkan menjadi lebih penting ketika kita membawanya ke kehidupan sosial dan politik.
Mengapa seseorang lahir dalam keluarga kaya, sementara yang lain tumbuh dalam kemiskinan?
Mengapa sebagian anak memperoleh pendidikan berkualitas, sementara sebagian lainnya harus berjuang mendapatkan akses pendidikan yang layak?
Apakah semuanya cukup dijawab dengan mengatakan bahwa itu adalah takdir?
Tentu tidak.
Jika kita memahami bahwa manusia dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, struktur sosial, dan kesempatan hidup, maka kita harus mengakui bahwa tidak semua orang memulai kehidupan dari garis yang sama.
Pemikiran Sapolsky mengingatkan kita agar tidak gegabah menyalahkan individu tanpa memahami kondisi yang membentuknya.
Islam memberikan landasan moral yang lebih luas: ketidakadilan harus diperjuangkan untuk diubah.
Kemiskinan bukan alasan untuk merendahkan orang miskin. Kebodohan bukan alasan untuk menyalahkan mereka yang tidak memperoleh pendidikan. Bahkan, keberhasilan seseorang tidak boleh membuatnya merasa paling berjasa atas seluruh pencapaiannya.
Takdir seharusnya melahirkan kerendahan hati. Ikhtiar seharusnya melahirkan keberanian untuk mengubah keadaan.
Takdir Tidak Membunuh Kebebasan untuk Berbuat Baik
Pada akhirnya, perdebatan antara Determined dan konsep takdir dalam Islam membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana menjadi manusia yang bertanggung jawab di tengah berbagai keterbatasan?
Sapolsky mengingatkan bahwa manusia tidak pernah berdiri sendiri. Ada faktor biologis, pengalaman, keluarga, dan lingkungan yang membentuk perilakunya.
Asy’ariyah mengingatkan bahwa seluruh kehidupan berada dalam kekuasaan Allah, sementara manusia tetap memiliki pertanggungjawaban melalui konsep kasb.
Maturidiyah memberikan penekanan bahwa kekuasaan Allah tidak meniadakan kemampuan manusia untuk memilih dan melakukan ikhtiar.
Ketiganya memberikan sudut pandang yang berbeda. Tetapi dialog di antara ketiganya membuka ruang refleksi yang penting bagi kehidupan manusia.
Saya melihat satu pelajaran besar dari perdebatan ini: semakin kita memahami keterbatasan manusia, seharusnya semakin besar pula rasa keadilan dan kemanusiaan kita.
Jangan mudah menghakimi orang yang sedang jatuh, tanpa memahami perjalanan yang membawanya ke sana. Tetapi jangan pula membiarkan kejahatan berlindung di balik alasan keadaan dan takdir.
Kita memang tidak memilih seluruh kondisi yang membentuk kehidupan kita. Namun, kita tidak boleh berhenti berusaha memperbaiki diri dan lingkungan.
Takdir adalah pengakuan atas keterbatasan manusia di hadapan Allah. Ikhtiar adalah bukti bahwa manusia tidak boleh menyerah pada keterbatasannya.
Sebab, iman kepada takdir bukanlah ajaran untuk pasrah terhadap ketidakadilan. Ia justru harus melahirkan kesadaran bahwa manusia memiliki amanah untuk berbuat baik, memperjuangkan kebenaran, dan memperbaiki kehidupan.
Manusia bukan Tuhan yang mahakuasa. Tetapi manusia juga bukan makhluk yang boleh melepaskan tanggung jawab atas perbuatannya.
Di antara takdir dan ikhtiar, di situlah manusia belajar menjadi manusia. (*)
Referensi Bacaan
Sapolsky, Robert M. (2023). Determined: A Science of Life Without Free Will. New York: Penguin Press.
Al-Maturidi, Abu Mansur. Kitab al-Tawhid. Ed. Fathallah Kholeif. Beirut: Dar El-Machreq, 1970.
Al-Ash’ari, Abu al-Hasan. Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala Ahl al-Zaygh wa al-Bida’.
Rudolph, Ulrich. (2015). Al-Maturidi and the Development of Sunni Theology in Samarqand. Leiden: Brill.
Frank, Richard M. (1983). Beings and Their Attributes: The Teaching of the Basrian School of the Mu’tazila in the Classical Period. Albany: SUNY Press.
Hoover, Jon. (2007). Ibn Taymiyya’s Theodicy of Perpetual Optimism. Leiden: Brill.
Wolfson, Harry Austryn. (1976). The Philosophy of the Kalam. Cambridge, MA: Harvard University Press.
