Jepri Ali Saiful, Ph.D, dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), sukses mengukir prestasi internasional. Ia berhasil meraih penghargaan ilmuwan dunia di bidang ekokritik dan humaniora lingkungan dari The Association for the Study of Literature and Environment (ASLE) yang berbasis di Amerika Serikat.
Penghargaan bergengsi ini diberikan atas kontribusi nyata Jepri dalam mengembangkan pendidikan bahasa berwawasan lingkungan, serta kiprah mendalamnya pada bidang ecocriticism dan environmental humanities. Prestasi ini menjadi catatan sejarah baru, karena Jepri merupakan ilmuwan pertama dari Indonesia—sekaligus satu dari sedikit ilmuwan di Asia—yang berhasil menerima penghargaan kehormatan tersebut.
Jepri menjelaskan bahwa ASLE merupakan asosiasi resmi paling disegani bagi para ilmuwan dan praktisi yang berfokus pada kajian ekokritik dan humaniora lingkungan. Organisasi global ini memiliki jaringan resmi di berbagai belahan dunia, termasuk ASLE ASEAN yang berbasis di National University of Singapore (NUS).
Setiap bulan, ASLE memberikan penghargaan Scholar of the Month kepada ilmuwan yang dinilai memberikan dampak signifikan. Prosesnya pun ketat, di mana kandidat harus dinominasikan oleh pihak lain dan tidak bisa mencalonkan diri sendiri. Sejak program ini dimulai pada Mei 2020, belum pernah ada satu pun ilmuwan asal Indonesia yang menerimanya. Di tingkat Asia, penghargaan ini sebelumnya hanya pernah diraih oleh segelintir ilmuwan top seperti Kiu-wai Chu dan Emely Zong.
“Pengentasan persoalan lingkungan di Indonesia perlu didorong melalui studi interdisipliner; mulai dari ilmu bahasa, pendidikan, sastra, hingga humaniora lingkungan. Dengan begitu, kita bisa mewujudkan SDM yang memiliki kesadaran dan keadilan lingkungan,” ujar Jepri pada Rabu (20/5/2026).
Fokus riset Jepri berpusat pada Eco-ELT, sebuah pendekatan pendidikan bahasa Inggris yang mengintegrasikan nilai-nilai keadilan lingkungan. Konsep ini menyentuh seluruh elemen pendidikan, mulai dari kurikulum, pengajar, siswa, hingga kebijakan strategis demi membangun hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.
Ia menilai, bahasa Inggris adalah media yang sangat efektif untuk mengampanyekan isu lingkungan. Selain materi ajarnya yang kaya akan topik alam, aktivitas pembelajaran bahasa Inggris juga sangat fleksibel. Guru bisa menerapkan metode variatif, seperti debat interaktif hingga penulisan akademik bertema lingkungan.
“Bahkan, tes bahasa Inggris internasional seperti TOEFL atau IELTS sering sekali mengangkat topik lingkungan. Jadi, belajar Eco-ELT di kelas memiliki manfaat ganda: siswa paham isu alam sekaligus lebih siap menghadapi ujian internasional,” imbuh pria yang dikenal sebagai pelopor konsep Eco-ELT ini.
Lebih lanjut, Jepri menekankan pentingnya peran humaniora lingkungan dalam menjawab krisis iklim global. Menurutnya, masalah lingkungan tidak akan selesai jika hanya mengandalkan ilmu sains murni.
“Krisis lingkungan juga membutuhkan pendekatan humaniora untuk mengubah cara pandang, sosial, budaya, dan tindakan manusia agar tidak antroposentris (menganggap manusia adalah pusat segalanya),” tegasnya.
Lewat penghargaan ini, Jepri berharap dapat membuka peluang kolaborasi riset internasional yang lebih luas. Ia juga mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk berani menjadi pelopor dengan mewajibkan mata kuliah atau kajian khusus terkait lingkungan. (*/tim)
