Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Diskusi Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) untuk Madrasah Muhammadiyah. Acara ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Rabu (10/6/2026).
Agenda strategis ini diikuti oleh sekitar 500 peserta yang terdiri dari pengurus Majelis Dikdasmen dan PNF tingkat Wilayah (PWM) serta Daerah (PDM) se-Indonesia, hingga para kepala madrasah Muhammadiyah dari berbagai penjuru tanah air.
Diskusi yang dipandu oleh Bagus Mustakim selaku moderator ini dihadiri langsung oleh Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, beserta jajaran narasumber dan pemangku kepentingan pendidikan Islam.
Dalam sambutannya, Didik Suhardi mengapresiasi antusiasme peserta. Ia menegaskan bahwa forum ini merupakan langkah nyata dalam mendongkrak mutu pendidikan di lingkungan Muhammadiyah. Didik berharap, lewat forum ini seluruh madrasah memiliki pemahaman yang utuh mengenai KBC agar bisa segera diterapkan dalam kegiatan belajar-mengajar sehari-hari.
“Diskusi ini diharapkan membawa manfaat besar bagi madrasah Muhammadiyah dalam mengembangkan sistem pendidikan yang berkarakter, humanis, dan berorientasi pada pembentukan generasi unggul,” ujar Didik.
Lima Pilar ‘Panca Cinta’ dalam Pembelajaran
Hadir sebagai pembicara utama, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag RI, Nyayu Khodijah, yang kali ini diwakili oleh Abdul Basit selaku Kepala Subdirektorat Kurikulum dan Evaluasi.
Abdul Basit memaparkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan yang memposisikan kasih sayang sebagai fondasi utama budaya madrasah. Nilai tersebut dijabarkan ke dalam lima pilar utama, yaitu:
- Cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya
- Cinta terhadap ilmu pengetahuan
- Cinta kepada sesama manusia
- Cinta terhadap lingkungan sekitar
- Cinta kepada bangsa dan tanah air
“Melalui integrasi kelima nilai ini, KBC diharapkan mampu mencetak generasi yang berakhlak mulia, toleran, peduli lingkungan, nasionalis, serta memiliki kesehatan mental dan spiritual yang kokoh,” tutur Abdul Basit.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program ini tidak bisa bertumpu pada satu pihak saja. Diperlukan kolaborasi erat dari seluruh ekosistem pendidikan—mulai dari guru, kepala madrasah, siswa, orang tua, hingga masyarakat luas—agar target pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan bisa tercapai.
Peran Strategis Guru di Ruang Kelas
Senada dengan hal tersebut, Fasilitator Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) sekaligus Tim Penulis Asesmen Kompetensi Guru (AKG) Nasional, Erni Susiani, menekankan pentingnya integrasi nilai “Panca Cinta” ke dalam aktivitas intrakurikuler mata pelajaran.
Menurut Erni, guru memegang peran kunci sebagai fasilitator yang menjembatani materi pelajaran dengan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Proses ini harus dirancang secara matang, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga tahap evaluasi.
“Guru harus menghadirkan suasana belajar yang tidak melulu mengejar penguasaan materi akademik, tetapi juga menyisipkan nilai-nilai cinta di setiap aktivitasnya. Dengan begitu, peserta didik dapat berkembang secara utuh, baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik,” jelas Erni.
Melalui orientasi ini, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah optimistis madrasah-madrasah Muhammadiyah di seluruh Indonesia mampu menjadi pelopor lembaga pendidikan yang unggul, berkemajuan, serta kokoh secara keislaman dan kemanusiaan. (*/tim)
