Dosen UMY: Teknologi Pertanian Jadi Solusi saat Suhu Ekstrem Ancam Krisis Pangan

Dosen Fakultas Pertanian UMY, Oki Wijaya, M.P.
www.majelistabligh.id -

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya, M.P., menegaskan bahwa panas ekstrem akan melanda Indonesia dalam waktu dekat. Kondisi ini berpotensi menjadi ancaman serius pada ketahanan pangan nasional. Ancaman ini akan semakin nyata jika tidak segera direspons melalui langkah adaptasi yang konkret, baik di tingkat petani maupun kebijakan pemerintah.

“Jika kondisi ini berulang atau berlangsung cukup lama, dampaknya dapat meluas menjadi ancaman terhadap ketahanan pangan. Tidak hanya di lahan pertanian, tetapi juga merambat ke harga, pasokan pasar, hingga daya beli rumah tangga,” kata Oki Wijaya.

Oki menjelaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga mencakup empat aspek yang saling terhubung, yaitu ketersediaan, keterjangkauan, pemanfaatan, dan stabilitas.

Ketika suhu ekstrem menekan hasil panen, keempat aspek tersebut turut terdampak. “Cuaca buruk menekan produksi. Produksi yang menurun akan mengganggu pasokan, yang kemudian mendorong kenaikan harga. Pada akhirnya, akses masyarakat terhadap pangan menjadi semakin sulit, terutama bagi kelompok rentan,” tegasnya.

Tekanan Ekonomi bagi Petani

Dampak cuaca ekstrem juga dirasakan langsung oleh petani. Suhu tinggi tidak hanya mengancam produktivitas tanaman, tetapi juga meningkatkan biaya produksi dan ketidakpastian hasil panen.

Kebutuhan air yang meningkat serta biaya perawatan yang lebih tinggi membuat pendapatan petani tertekan. Dalam kondisi ini, petani berisiko mengalami penurunan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pangan rumah tangganya sendiri.

Untuk mengatasi ancaman tersebut, Oki mendorong kombinasi antara penyesuaian praktik budidaya dan percepatan adopsi teknologi adaptasi di sektor pertanian.

Beberapa teknologi yang dinilai relevan antara lain irigasi hemat air, sistem peringatan dini cuaca dan kekeringan, layanan penyuluhan berbasis digital, penggunaan varietas tahan panas dan kekeringan, serta pompa irigasi tenaga surya di wilayah rawan defisit air.

Ia mencontohkan, penyuluhan berbasis digital terbukti mampu meningkatkan adopsi teknologi irigasi hemat air pada 610 petani apel di Tiongkok. Teknologi ini membantu menekan biaya pencarian informasi sekaligus memperluas akses pembiayaan.

Studi lain pada 652 rumah tangga peternak di kawasan pastoral Tiongkok menunjukkan bahwa sistem peringatan dini mampu menurunkan kerugian ekonomi hingga 42 persen pada rumah tangga yang terdampak cuaca ekstrem.

“Teknologi informasi iklim bukan sekadar alat prediksi, tetapi juga instrumen untuk mengurangi risiko kerugian. Peringatan dini mungkin tidak sepenuhnya mencegah kerugian, tetapi dapat menekannya secara signifikan,” jelas Oki.

Oki mengingatkan bahwa tanpa respons adaptasi yang sistematis, tren suhu di atas normal akan meningkatkan ketidakpastian hasil pertanian, memperbesar biaya adaptasi, serta memperberat tekanan ekonomi petani dalam jangka menengah.

“Kondisi ini harus segera diantisipasi agar tidak berkembang menjadi krisis pangan yang lebih luas,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search