Fajar Riza: Teknologi Harus Berakar pada Nilai Kemanusiaan dan Spiritual

Fajar Riza: Teknologi Harus Berakar pada Nilai Kemanusiaan dan Spiritual
www.majelistabligh.id -

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesadaran agar teknologi tidak terlepas dari akar sosial dan kemanusiaan.

“Kita berharap, teknologi yang berkembang itu teknologi yang punya nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai spiritual. Bukan teknologi yang tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai spiritual,” ujar Fajar saat menghadiri Rakerwil dan Rakorwil Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau di Dumai, Jumat (5/6/2026).

Ia menambahkan, era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menuntut dunia pendidikan untuk tidak hanya mengandalkan sains dan ilmu-ilmu eksakta. Menurutnya, pendekatan sosial-humaniora juga perlu diperkuat karena berkaitan erat dengan aspek emosional, seni, kreativitas, inovasi, dan empati.

Dalam kesempatan tersebut, Fajar mengapresiasi penyelenggaraan Rakerwil dan Rakorwil yang mengusung tema “Menuju Pendidikan Muhammadiyah Unggul, Berkarakter, dan Berkemajuan.” Baginya, forum tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan juga sarana menyinergikan berbagai kebijakan strategis Kemendikdasmen dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Fajar menjelaskan bahwa konsep STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) memiliki keterkaitan erat dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang saat ini dikembangkan Kemendikdasmen.

Salah satu pendekatan utama dalam Pembelajaran Mendalam, lanjutnya, adalah project based learning atau pembelajaran berbasis proyek. Melalui pendekatan ini, peserta didik didorong untuk menginvestigasi sekaligus mencari solusi atas persoalan yang dihadapi.

“Proses-proses pembelajaran kita di sekolah sudah harus mulai didorong ke arah sana. Sehingga, berbagai macam materi yang sifatnya hafalan atau deskriptif perlu diminimalisir,” tuturnya.

Fajar menekankan bahwa hakikat ilmu bukan terletak pada banyaknya informasi atau hafalan yang dimiliki seseorang.

“Ilmu itu bukanlah semata-mata banyaknya riwayat, banyaknya informasi, banyaknya hafalan. Tetapi yang disebut dengan ilmu itu adalah wa lakinnahu nurun yaqdzifuhu Allahu fi al-qalbi (yang ditanamkan oleh Allah di hati manusia). Yang ditanam di hati, itu melalui proses refleksi, kontemplasi,” imbuhnya.

Karena itu, menurutnya, fokus utama Pembelajaran Mendalam bukanlah pada banyaknya materi yang disampaikan, melainkan kualitas pemahaman peserta didik terhadap suatu materi. Proses tersebut ditempuh melalui tahapan memahami, melaksanakan, dan merefleksikan.

Lebih lanjut, Fajar menjelaskan bahwa secara teologis Al-Qur’an telah menegaskan pentingnya ilmu yang mampu masuk ke dalam hati dan menjadi cahaya bagi manusia. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan proses refleksi dan kontemplasi, bukan sekadar menghafal atau melakukan pengulangan.

“Salah satu ayat dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa falau lâ nafara ming kulli firqatim min-hum thâ’ifatul liyatafaqqahû fid-dîni wa liyundzirû qaumahum. Dalam ayat tersebut disebutkan ‘liyatafaqqahû fid-dîn’. Artinya, bukan menghafal, melainkan memahami secara mendalam,” tegas Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Ia menambahkan bahwa semangat memahami secara mendalam tersebut sejatinya telah menjadi pesan utama Al-Qur’an dalam mendorong manusia mempelajari berbagai fenomena kehidupan, baik yang berkaitan dengan ilmu agama maupun ilmu pengetahuan secara umum.

“Jadi, Al-Qur’an sejatinya telah mendorong manusia untuk mempelajari fenomena alam termasuk ilmu-ilmu agama berbasis tafaqquh fiddin. Dengan kata lain, hal ini selaras, sejalan, dan senapas dengan semangat Pembelajaran Mendalam,” pungkasnya. (*/tim)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search