Gema “Iqra” di Harvard: Saat Surat Al-Alaq Dilantunkan pada Altar Akademik Dunia

www.majelistabligh.id -

“Iqra!” (Bacalah). Seruan suci pembuka peradaban Islam itu bergema lantang di Tercentenary Theatre, Universitas Harvard, Amerika Serikat. Di tengah meningkatnya gelombang Islamofobia global dan memanasnya isu kemanusiaan dunia, seorang wisudawati melantunkan Al-Qur’an Surat Al-Alaq dalam rangkaian upacara kelulusan tahun 2026.

Peristiwa bersejarah ini terjadi dalam Upacara Baccalaureate Harvard, Rabu (27/5/2026), yang secara kebetulan bertepatan dengan momentum Hari Raya Iduladha 1447 H.

Pemilihan Surat Al-Alaq—wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad saw tentang pentingnya ilmu pengetahuan—menjadi simbol kuat yang menghadirkan wajah Islam yang intelektual, humanis, dan dekat dengan dunia pendidikan. Di mimbar salah satu kampus paling prestisius di bumi, ayat-ayat tersebut menepis narasi miring yang kerap mengaitkan Islam dengan konflik atau ekstremisme.

Berbeda dengan wisuda utama yang berfokus pada penyerahan ijazah secara formal, upacara Baccalaureate merupakan tradisi tahunan yang lebih bersifat reflektif, spiritual, dan sarat pesan moral. Dalam acara yang diisi oleh pidato Rektor Harvard, Alan Garber, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar syahdu, berdampingan dengan doa serta teks suci dari berbagai tradisi agama dunia.

Meskipun secara historis berakar dari tradisi gereja Kristen, upacara Baccalaureate Harvard kini telah bertransformasi menjadi ruang multireligius dan multikultural. Hal ini sengaja dirancang untuk menghormati sekaligus merayakan keberagaman latar belakang iman para mahasiswa yang lulus pada tahun 2026.

Harvard selama puluhan tahun dikenal sebagai kawah candradimuka bagi pembentukan elite global di bidang politik, ekonomi, teknologi, hingga kebijakan internasional. Oleh karena itu, hadirnya Al-Qur’an di forum resmi ini dinilai para pengamat sebagai penanda perubahan penting dalam lanskap intelektual Barat.

Dunia akademik Barat perlahan mulai menyadari bahwa peradaban modern tidak bisa lagi dibangun hanya dengan perspektif tunggal. Ada kebutuhan mendesak untuk membuka ruang dialog lintas iman dan lintas budaya secara lebih setara.

Model Baru Diplomasi Budaya

Melalui momen ini, Harvard seolah ingin menegaskan bahwa keberagaman bukanlah ancaman bagi intelektualitas, melainkan fondasi penting dalam menghadapi masa depan dunia yang semakin kompleks.

Di tengah konflik global yang hari ini masih sarat dengan isu identitas, ras, dan agama, pendekatan inklusif yang ditunjukkan Harvard menyajikan model baru diplomasi budaya. Sebuah langkah yang halus, namun memiliki dampak resonansi yang besar bagi perdamaian dunia. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search