Grand Syekh Al-Azhar: AI Tanpa Etika Jadi Ancaman Kemanusiaan

Grand Syekh Al-Azhar, Dr. Ahmed Al-Tayeb.
www.majelistabligh.id -

Perdebatan global mengenai masa depan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini memasuki babak krusial. Dunia tidak lagi sekadar bicara soal kecanggihan inovasi, melainkan dihadapkan pada pertanyaan mendasar: siapa yang mengendalikan teknologi ini dan nilai moral apa yang menjadi pijakannya?

Peringatan tersebut ditegaskan oleh Imam Besar atau Grand Syekh Al-Azhar sekaligus Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM), Dr. Ahmed Al-Tayeb. Pesan ini disampaikan saat menerima kunjungan Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amina Mohammed, beserta delegasi di Kairo, seperti dilansir MHM Indonesia pada Selasa (14/7/2026).

Grand Syekh Al-Azhar menyoroti ketergantungan berlebihan pada AI yang mulai memicu dampak negatif konkret, seperti melemahnya kemampuan berpikir kritis, menurunnya kreativitas, hingga maraknya praktik plagiarisme digital yang mengabaikan hak cipta.

Lebih jauh, ia mencemaskan potensi monopoli AI oleh segelintir pihak berkuasa untuk menyetir arah dunia.

“Pertanyaan yang seharusnya menjadi perhatian dunia saat ini bukanlah seberapa jauh AI akan maju, tetapi siapa yang mengatur kemajuan ini, berdasarkan sistem nilai apa, dan siapa yang dimintai pertanggungjawaban. Jika etika absen, sains justru menjadi sumber bahaya bagi umat manusia,” tegas Dr. Ahmed Al-Tayeb.

Sebagai bentuk langkah nyata, Al-Azhar dan MHM menyatakan kesiapan penuh untuk berkolaborasi dalam diplomasi internasional demi memastikan AI diposisikan sebagai pelayan kemanusiaan, bukan alat pengendali manusia.

Imam Akbar juga mengapresiasi komitmen PBB di bawah kepemimpinan Sekjen Antonio Guterres yang konsisten memperjuangkan keadilan global dan hukum internasional di tengah disrupsi teknologi.

Merespons hal tersebut, Wasekjen PBB Amina Mohammed mengapresiasi visi progresif Grand Syekh Al-Azhar dalam menjaga posisi sentral manusia di era transformasi digital. Amina mengungkapkan bahwa PBB kini gencar merumuskan tata kelola AI yang menempatkan martabat manusia sebagai poros utama.

Pertemuan antara Al-Azhar dan PBB ini mempertegas bahwa suara lembaga keagamaan memiliki peran krusial dalam percaturan teknologi global. Pesan utamanya mutla, bahwa keberhasilan teknologi tidak boleh hanya diukur dari kecerdasan mesin, melainkan dari sejauh mana ia mampu merawat nilai-nilai luhur kemanusiaan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search