Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan agar Muktamar tidak dimaknai sekadar sebagai forum organisasi atau pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, Muktamar harus menjadi ruang musyawarah yang melahirkan keputusan terbaik, memperkuat ikatan persaudaraan, serta merumuskan arah gerakan organisasi dalam menjawab tantangan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Haedar saat membuka Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jumat (7/8/2026).

Menurut Haedar, forum Muktamar merupakan momentum strategis bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk membahas berbagai persoalan organisasi, merumuskan program, sekaligus memproyeksikan peran organisasi pada masa mendatang.
“Tentang masalah, tantangan, program, dan proyeksi Nasyiatul Aisyiyah ke depan. Silakan untuk bermusyawarah dengan kecerdasan dan ilmu yang mencukupi,” tuturnya.
Ia menegaskan, tradisi musyawarah harus menjadi ruh dalam setiap Muktamar Muhammadiyah maupun organisasi otonom. Musyawarah tidak hanya dimaksudkan untuk menghasilkan keputusan, tetapi juga menjadi sarana membangun kebijaksanaan bersama.
“Jadikan forum-forum Muktamar kita sungguh-sungguh untuk wasyawirhum fil amri sebagaimana semangat bermusyawarah. Itulah yang menjadi jiwa Muktamar-Muktamar kita yang berjalan baik,” ujarnya.
Selain sebagai forum pengambilan keputusan, Haedar menilai Muktamar juga harus menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi antarkader. Menurutnya, persaudaraan yang dibangun atas dasar nilai dan komitmen ideologi Muhammadiyah merupakan fondasi penting dalam menjaga kekuatan organisasi.
Di tengah keragaman pandangan yang tumbuh di lingkungan Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, Nasyiatul Aisyiyah, maupun organisasi otonom lainnya, Haedar mengingatkan bahwa seluruh perbedaan tersebut harus dipersatukan oleh kasih sayang dan semangat kolektivitas.
“Kita disatukan. Dan itulah kekuatan kolektif kita. Keragaman dan perbedaan, insyaallah tidak akan membuat Muhammadiyah dan seluruh komponennya retak, karena ada kekuatan kasih sayang atas nama Allah untuk menjadikan organisasi kita sebagai wahana perjuangan dakwah dan tajdid,” tegasnya.
Haedar juga mengajak seluruh peserta Muktamar untuk menjaga komitmen terhadap nilai-nilai dasar Muhammadiyah yang telah diwariskan sejak awal berdirinya persyarikatan. Menurutnya, seluruh amal usaha dan gerakan Muhammadiyah dibangun di atas komitmen menjalankan nilai ibadah sekaligus nilai-nilai organisasi yang telah teruji oleh perjalanan sejarah.
Ke depan, Haedar berharap Muktamar mampu menghasilkan keputusan yang tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga menjadi proyeksi arah gerakan Nasyiatul Aisyiyah di tengah perubahan zaman.
“Proyeksi ke depan itu tidak linier karena di tengah-tengah kita ada perubahan zaman yang terjadi. Jadi proyeksikan ke depan Nasyiatul Aisyiyah mau seperti apa, berperan apa dalam kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta,” pesannya.
Menutup amanatnya, Haedar mengingatkan agar seluruh proses Muktamar dijalani dengan semangat persaudaraan dan kegembiraan. Dinamika musyawarah, menurutnya, merupakan hal yang wajar dalam organisasi, namun tidak boleh mengurangi kebersamaan sebagai satu keluarga besar Muhammadiyah.
“Tetap mengedepankan kegembiraan, kebahagiaan, dan kebersamaan. Tidak usah tegang-tegangan,” imbuhnya.
Bagi Haedar, semangat musyawarah yang dilandasi ilmu, persaudaraan, dan kasih sayang akan menjadi modal utama bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk melahirkan keputusan-keputusan terbaik serta memperkuat perannya dalam dakwah, pemberdayaan perempuan muda, dan kemajuan bangsa. (*/tim)
