Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, berpesan kepada siapa pun yang mengemban amanah kepemimpinan di level mana pun untuk menanggalkan seluruh kepentingan pribadi.
Pesan mendalam tersebut disampaikan Haedar saat menghadiri perayaan Milad ke-10 Universitas Muhammadiyah Bandung (UMB) pada Sabtu (16/5/2026). Ia menegaskan bahwa dalam persyarikatan Muhammadiyah, kepentingan pribadi harus sepenuhnya dihilangkan demi kemaslahatan organisasi.
Selain itu, Haedar mengingatkan bahwa para pemimpin di Muhammadiyah harus jeli dalam memahami situasi dan dinamika yang berkembang di media massa. Menurutnya, seorang pemimpin harus bijak dalam memilah respons; tidak semua isu harus ditanggapi secara reaktif, namun tidak boleh juga semuanya didiamkan begitu saja.
Dalam konteks tersebut, Haedar mengutip sebuah pepatah Melayu yang sarat makna.
“Jauhi sifat ayam di kandang, bertelur satu ribut sekampung. Jadilah penyu di pantai, bertelur beratus namun tetap rendah hati.”
“Itulah sifat tawassuth, sifat tengahan. Dalam hal tertentu, kita harus mampu memberi warna dan kontribusi nyata (tanpa harus pamrih),” ungkap Haedar.
Lebih lanjut, Haedar menjelaskan bahwa menjalankan amanah di persyarikatan membutuhkan landasan spiritualitas yang kuat, yaitu hidup ihsan dalam dimensi irfani. Sebagai organisasi besar yang dihuni oleh banyak kepala dan isi pikiran yang berbeda, Muhammadiyah memerlukan gaya komunikasi yang lebih mendalam, bukan sekadar retorika lisan.
“Serumit apa pun hubungan antarmanusia, ketika yang berbicara adalah hati dan rasa, maka akan terbangun koneksi yang tulus. Apalagi jika di dalamnya tidak ada kepentingan atau persoalan pribadi,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar segala kebaikan yang dilakukan selama memegang jabatan tidak perlu diumbar demi memuaskan nafsu kesombongan. Haedar meyakini bahwa setiap kontribusi positif pada akhirnya akan berbuah manis dengan sendirinya.
“Maka kita tidak perlu gembar-gembor. Tuhan mencatat, semesta mendaftar, dan pada akhirnya orang lain pun akan tahu secara alami,” tambahnya.
Sebaliknya, Haedar memberikan peringatan keras bahwa siapa pun yang mengkhianati amanah dan melakukan keburukan, maka dampak buruk tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri. Hal ini selaras dengan penegasan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 7.
Bagi warga Muhammadiyah, ayat tersebut juga menjadi landasan teologis untuk selalu menyampaikan kebenaran dengan cara yang moderat. Ia menggarisbawahi bahwa menyampaikan kebenaran tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang buruk atau merusak.
Menutup arahannya, Haedar berpesan agar seluruh warga Muhammadiyah senantiasa menjaga kesucian diri dan ketakwaan. Meski demikian, ia mengingatkan agar nilai-nilai tersebut tidak membuat mereka terjebak dalam sikap merasa paling suci (self-righteous). (*/tim)
