Masjid yang Menghidupkan Umat

*) Oleh : Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.
Menteri Agama RI
www.majelistabligh.id -

Selama ini, kita sering mendengar ungkapan bahwa umat harus memakmurkan masjid. Kalimat tersebut benar, karena disebut secara langsung di dalam Al-Quran. Namun demikian, sesungguhnya ada gagasan yang lebih mendasar yang harus dipahami. Apa itu? Masjid yang harus memakmurkan umat melalui program-programnya.

Tentu, kalau bicara masjid tidak berhenti soal bangunan yang ramai oleh jemaah, tetapi pusat lahirnya manusia-manusia yang kuat iman, mulia akhlak, cerdas pikiran, dan mandiri kehidupannya. Inilah hakikat masjid pada masa Rasulullah saw, yaitu ketika masjid menjadi pusat ibadah, pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, tempat menyusun strategi militer, bahkan penguatan ekonomi masyarakat.

Kita perlu mengubah cara pandang terhadap masjid. Ukuran kemakmuran masjid tidak cukup dilihat dari megahnya arsitektur, indahnya kubah, atau padatnya saf salat. Masjid yang benar-benar makmur adalah masjid yang melahirkan masyarakat yang makmur, yang mampu mengurangi kemiskinan, memperkuat solidaritas sosial, menghidupkan tradisi ilmu, serta menghadirkan harapan bagi mereka yang lemah.

Di Indonesia, jumlah masjid mencapai ratusan ribu. Data Ditjen Bimas Islam, masjid (dan mushalla) ada sekitar 709.073. Bila setiap masjid (dan mushalla) menjadi pusat pemberdayaan, maka sesungguhnya kita memiliki jaringan pembangunan sosial terbesar yang pernah dimiliki bangsa ini. Potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat dikelola secara profesional untuk membiayai pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga perlindungan bagi kelompok rentan. Sehingga, masjid menjadi tempat bertumbuhnya kemandirian umat, dan bukan sebaliknya.

Masjid juga harus menjadi rumah yang terbuka. Siapapun yang datang hendaknya merasakan kedamaian, diterima tanpa prasangka, dan memperoleh ruang untuk bertumbuh. Anak-anak menemukan pendidikan akhlak, pemuda memperoleh inspirasi untuk berkarya, kaum perempuan mendapatkan ruang penguatan keluarga, sementara para Lansia memperoleh ketenangan batin. Dengan demikian, masjid hadir sebagai rumah besar kemanusiaan dan peradaban.

Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, fungsi masjid justru semakin relevan. Ketika masyarakat menghadapi krisis moral, masjid menguatkan nilai-nilai spiritual. Ketika kesenjangan ekonomi melebar, masjid menjadi pusat solidaritas. Ketika masyarakat terbelah oleh perbedaan, masjid menghadirkan persaudaraan. Agama tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi kekuatan yang menghadirkan kemaslahatan.

Karena itu, sudah saatnya kita menggeser orientasi. Jangan hanya bertanya, “Apa yang dapat umat lakukan untuk masjid?” Lebih penting lagi bertanya, “Apa yang telah masjid lakukan untuk umat?”

Pertanyaan inilah yang akan menghidupkan kembali ruh peradaban Islam, dan ini menjadi tugas seluruh pengelola/pengurus masjid, termasuk di dalamnya para imam masjid.

Masjid yang sejati bukan hanya yang menggemakan azan lima kali sehari. Bukan pula hanya menjadi tempat hamba berkomunikasi dengan Allah. Masjid yang sejati adalah masjid yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, yaitu menguatkan yang lemah, mencerdaskan yang belum berilmu, menolong yang membutuhkan, serta menjadi tempat manusia terhubung dengan sesamanya.

Dari masjid seperti itulah, peradaban akan kembali tumbuh.

 

Tinggalkan Balasan

Search