Haji dan Umrah Adalah Undangan Khusus dari Allah

Kakbah memiliki magnet bagi umat Islam yang selalu merindukan. (*/tim)
www.majelistabligh.id -

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, menegaskan bahwa ibadah haji dan umrah bukan semata-mata ditentukan oleh kesehatan, kemampuan finansial, atau bahkan niat manusia. Lebih dari itu, keduanya merupakan “undangan khusus” dari Allah Swt.

Hal tersebut disampaikan dalam pengajian yang berlangsung di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Senin (4/5/2026).

Dalam ceramahnya, Budi mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 27, yang memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia agar menunaikan haji. Ia menekankan bahwa tidak semua orang yang memiliki kemampuan dapat berangkat ke Tanah Suci.

“Ada yang sudah sampai bandara, bahkan sudah tiba di sana, tetapi harus pulang. Ada pula yang wafat setibanya di Madinah. Ini menunjukkan bahwa haji dan umrah adalah panggilan Allah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, fenomena tersebut kerap menimbulkan pertanyaan di masyarakat, termasuk terkait orang-orang dengan latar belakang moral tertentu yang tetap bisa berangkat haji. Menurutnya, hal itu tidak bisa disederhanakan sebagai legitimasi atas perbuatan mereka.

“Undangan Allah itu beragam. Bisa karena kesalehan, keimanan, atau justru karena Allah ingin seseorang kembali kepada-Nya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Budi menyoroti fenomena sebagian orang yang berulang kali menunaikan umrah. Ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak perlu dipersoalkan, sebab umrah adalah bagian dari panggilan spiritual.

“Kalau ada kemampuan, silakan. Bahkan Nabi sendiri melaksanakan umrah beberapa kali. Tidak ada batasan jumlahnya,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa niat dan persiapan tetap menjadi faktor penting. Banyak orang yang akhirnya bisa berangkat karena kesungguhan niat dan usaha, termasuk menabung sejak dini. “Di mana ada niat, di situ ada jalan. Ini juga harus kita terapkan dalam urusan ibadah,” tambahnya.

Dalam aspek spiritual, Budi menegaskan bahwa haji dan umrah memiliki keutamaan besar, di antaranya sebagai penghapus dosa dan pembersih jiwa. Ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim, “Al-hajju al-mabrur laisa lahu jaza’un illal jannah” (Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga). Selain itu, ia juga menyampaikan hadis lain bahwa umrah ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa di antara keduanya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa rangkaian ibadah dalam haji dan umrah mengandung nilai pendidikan spiritual yang mendalam. Ihram, misalnya, melatih ketaatan total kepada aturan Allah, sekaligus menghapus sekat sosial karena semua jamaah mengenakan pakaian yang sama. Tawaf mengajarkan fokus hidup hanya kepada Allah, sementara sai menjadi simbol ikhtiar tanpa henti, meneladani perjuangan Siti Hajar.

“Ketika tawaf, kita didorong, disikut, bahkan terinjak, tetapi tetap fokus kepada Allah. Ini pelajaran bahwa hidup tidak boleh dikendalikan oleh omongan orang lain, tetapi harus berpusat kepada Allah,” jelasnya.

Ia juga menyoroti wukuf di Arafah sebagai puncak ibadah haji, yang menjadi momentum terbaik untuk berdoa, bertobat, dan memulai kehidupan baru. Mengutip hadis riwayat Muslim, ia menyebut bahwa tidak ada hari di mana Allah lebih banyak membebaskan hamba dari api neraka selain hari Arafah.

“Mari kita niatkan dan persiapkan diri. Jika belum diundang, berdoa dan berusaha agar pantas diundang. Semoga kita semua diberi kesempatan untuk menunaikan haji dan umrah, bahkan jika memungkinkan setiap tahun,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search