Harta yang Bermanfaat

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Harta yang bermanfaat adalah kekayaan yang diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk kebaikan. Menurut ajaran Islam, harta hakiki bukanlah yang ditumpuk, melainkan yang disedekahkan dan diwakafkan. Karena itulah yang menjadi bekal amal jariyah dan penolong di akhirat.

Umar bin Dzar rahimahullah mengisahkan:

قال الربيع بن أبي راشد، ورأى رجلاً مريضاً يتصدق بصدقة فقسمها بين جيرانه، فقال: الهدايا إمام الزيارة. فلم يلبث الرجل إلا أياماً حتى مات. فبكى عند ذلك الربيع وقال: أحسن والله بالموت وعلم أنه لا ينفعه من ماله إلا ما قدم بين يديه.

“Rabi’ bin Abi Rasyid melihat orang sakit yang bersedekah. Orang itu membagi-bagikan hartanya kepada para tetangganya. Rabi’ bin Abi Rasyid pun berkata, “Hadiah adalah pembuka kedekatan sebelum kunjungan.” Setelah beberapa hari, orang yang sakit tersebut meninggal. Rabi’ bin Abi Rasyid menangis karena hal itu. Rabi’ berkata, “Demi Allah, orang tersebut telah mempersiapkan bekal dengan baik menghadapi kematiannya. Orang itu juga mengetahui bahwa tidak ada harta yang bermanfaat untuknya selain yang ia sedekahkan.” (Shifatush Shafwah, hlm. 469)

Kisah tersebut adalah nasihat berharga tentang sedekah. Kalimat “Hadiah adalah pembuka kedekatan sebelum kunjungan” bermakna bahwa bersedekah di dunia adalah cara kita menyiapkan amal. Ia akan menjadi “jalan pembuka” untuk mempermudah perjalanan kita menuju akhirat dan perjumpaan dengan Allah Swt.

Pesan utama dari kisah ini:

  • Harta sejati: Harta yang kita miliki di dunia akan ditinggalkan. Harta tersebut hanya berguna jika kita sedekahkan di jalan Allah.
  • Persiapan bekal: Saat sakit atau dekat dengan ajal, orang yang cerdas akan memperbanyak sedekah sebagai bekal terbaik untuk kehidupan setelah mati.
  • Sikap Rabi’ bin Abi Rasyid: Tangisan Rabi’ adalah rasa kagum dan haru. Ia melihat ada orang yang sangat paham cara “mengirimkan” hartanya ke akhirat lebih dulu sebelum ia meninggal.

Sebaik-baik harta adalah yang berada di tangan orang yang saleh, di mana ia tahu cara mencari dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan dunia maupun akhirat. Agar lebih terarah dalam mengelola dan mendistribusikan harta secara tepat,

Konsep pemanfaatan harta yang tepat meliputi tiga jalur utama:

  • Untuk Kebutuhan Sendiri: Digunakan secukupnya untuk nafkah keluarga, makan, dan pakaian yang halal dan thayyib (baik) tanpa berlebihan atau kikir.
  • Investasi Akhirat: Harta yang diinfakkan, dizakatkan, atau diwakafkan di jalan Allah.
  • Bermanfaat Bagi Sesama: Harta yang digunakan untuk membantu kerabat, menyantuni anak yatim, dan memberdayakan masyarakat.

Sebaik-baik harta adalah di tangan orang yang salih. Harta bukanlah tujuan akhir, melainkan alat. Saat berada di tangan orang yang saleh (bertakwa dan bijak), harta menjadi berkah. Ia akan digunakan untuk kebaikan, membantu sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَلِىٍّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ يَقُولُ بَعَثَ إِلَىَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلاَحَكَ ثُمَّ ائْتِنِى ». فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِىَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ « إِنِّى أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنَ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً ». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّى أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِى الإِسْلاَمِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَقَالَ « يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ »

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, telah menceritakan kepada kami Musa bin Ali dari bapaknya ia berkata, saya mendengar Amru bin Ash berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang kepadaku agar mengatakan, “Bawalah pakaian dan senjatamu, kemudian temuilah aku.” Maka aku pun datang menemui beliau, sementara beliau sedang berwudu. Beliau kemudian memandangiku dengan serius dan mengangguk-anggukkan (kepalanya). Beliau lalu bersabda: “Aku ingin mengutusmu berperang bersama sepasukan prajurit. Semoga Allah menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidaklah memeluk Islam lantaran ingin mendapatkan harta, akan tetapi saya memeluk Islam karena kecintaanku terhadap Islam dan berharap bisa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka beliau bersabda: “Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih.” (HR. Ahmad 4/197. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Hadis tersebut mengandung hikmah bahwa  yang dimaksud orang yang saleh adalah orang yang memperhatikan dan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama.  Harta yang baik adalah harta yang dimanfaatkan untuk maslahat dunia dan akhirat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search