Perbedaan pendapat (ikhtilaf) adalah sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Allah SWT menciptakan manusia dengan latar belakang, pemikiran, dan tingkat pemahaman yang beragam. Namun, belakangan ini, ruang diskusi terutama di media sosial sering kali berubah menjadi arena saling hujat, merasa paling benar, dan menjatuhkan martabat sesama. Budaya adab dalam berbeda pendapat seolah menjadi hal yang langka dan sangat dirindukan.
Islam tidak pernah melarang umatnya untuk berbeda pandangan atau berdiskusi. Yang dilarang adalah perpecahan, permusuhan, dan hilangnya akhlak saat menyampaikan argumen. Rasulullah SAW dan para sahabat serta ulama mazhab telah memberikan teladan indah tentang bagaimana mengelola perbedaan dengan penuh kesantunan.
Berikut adalah beberapa etika dasar dalam berdiskusi yang dirindukan dalam interaksi kita sehari-hari:
– Niat Tulus Mencari Kebenaran
Diskusi dalam Islam bertujuan untuk bertukar pikiran demi menemukan kebenaran, bukan untuk memenangkan ego atau mempermalukan lawan bicara. Imam Asy-Syafi’i pernah berkata, “Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang melainkan aku berharap agar kebenaran muncul dari lisannya.”
– Mengedepankan Prasangka Baik (Husnuzhan)
Jangan terburu-buru menghakimi niat atau status keimanan orang lain hanya karena mereka memiliki sudut pandang yang berbeda. Beri ruang untuk memahami jalan pikiran lawan bicara tanpa harus langsung menyematkan label negatif.
– Menjaga Lisan dan Mengontrol Emosi
Kata-kata kasar, sindiran tajam, dan nada merendahkan tidak akan pernah memperkuat argumen, melainkan justru merusak ukhuwah. Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang buruk sering kali ditolak bukan karena isinya, tetapi karena cara penyampaiannya.
– Fokus pada Substansi, Bukan Fisik atau Pribadi (Ad Hominem)
Diskusi yang sehat menguji gagasan, bukan menyerang pribadi. Fokuslah pada data, dalil, dan argumen yang relevan tanpa perlu mengungkit sisi personal lawan bicara.
– Besar Hati Menerima Kebenaran
Jika argumen lawan bicara ternyata lebih kuat dan didasari dalil atau data yang valid, seorang muslim yang bijak tidak akan gengsi untuk mengakui kesalahannya dan menerima kebenaran tersebut.
Berikut adalah dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang menjelaskan etika berdiskusi, menyampaikan argumen, serta menyikapi perbedaan pendapat dengan adab:
Dalil Al-Qur’an
1. Perintah Berdiskusi dengan Cara yang Terbaik
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah424) dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl [16]: 125)
2. Larangan Berdebat Menggunakan Kata-Kata Kasar
۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
“Dan janganlah kamu mendebat Ahlulkitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap orang-orang yang berbuat zalim di antara mereka. Katakanlah, “Kami beriman pada (kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu. Hanya kepada-Nya kami berserah diri.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 46)
3. Melunakkan Tutur Kata dalam Berargumen
فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha [20]: 44)
(Bahkan kepada seorang penguasa zalim seperti Fir’aun pun, Nabi Musa dan Harun diperintahkan tetap santun).
4. Pentingnya Tabayyun dan Bertanya pada Ahlinya
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ
Kami tidak mengutus sebelum engkau (Nabi Muhammad), melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepadanya. Maka, bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan418) jika kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl [16]: 43)
418) Yakni orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab.
Dalil Hadits Nabi SAW:
– Keutamaan Menghindari Debat Kusir (Meskipun Benar)
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar...” (HR. Abu Dawud no. 4800, disahihkan oleh Al-Albani)
– Tanda Kebaikan Islam Seseorang
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2317)
– Larangan Menyakiti Hati Sesama Muslim dengan Lisan
“Seorang muslim adalah orang yang membuat muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari no. 10 & Muslim no. 40)
– Anjuran Berbicara Baik atau Diam
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 & Muslim no. 47)
Berbeda pendapat adalah hal wajar, tetapi menjaga ukhuwah dan persaudaraan adalah kewajiban. Sudah saatnya kita menghidupkan kembali etika berdiskusi yang santun, menyejukkan, dan beradab. Mari wujudkan ruang dialog yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga merekatkan tali silaturahmi. (*)
