Ada gerakan yang lahir dari kegelisahan, lalu gelisah ketika dikritik.
Ketika kecil ia bertanya, “Mengapa?”
Ketika besar ia bertanya, “Siapa yang bertanya?”
Muhammadiyah perlu waspada pada perubahan itu.
Ahmad Dahlan tidak mendirikan gerakan untuk membuat umat nyaman. Ia ingin agama bekerja, ilmu bergerak, pendidikan membebaskan.
Lalu organisasi membesar.
Gedung bertambah. Kampus bertambah. Rumah sakit bertambah. Jabatan bertambah. Akses kepada kekuasaan terbuka.
Godaan pun datang.
Namanya kedekatan.
Ahmet T. Kuru, dalam Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment, menunjukkan bagaimana aliansi ulama dan negara dalam sejarah tertentu dunia Muslim dapat menggerus otonomi intelektual: negara memberi sumber daya, otoritas memberi legitimasi.
Keduanya memperoleh sesuatu.
Ilmu kehilangan jarak.
Tesis itu bukan potret Muhammadiyah. Tetapi cukup untuk menjadi cermin.
Di organisasi, gejalanya sederhana.
Rapat bicara independensi. Lalu bertanya: “Pejabat setuju?”
Kampus mengajarkan critical thinking. Di luar kelas, orang belajar safe thinking.
Kader boleh berbeda pendapat.
Asal tidak terlalu berbeda.
Ketika kritik menyentuh elite, namanya berubah: fatsun, loyalitas, ukhuwah.
Ketakutan pun bisa tampil sebagai adab.
Padahal tajdid lahir dari keberanian mengusik kemapanan.
Cendekiawan Muhammadiyah boleh masuk pemerintahan. Menteri, penasihat, komisaris—silakan.
Yang harus tetap di luar adalah nurani.
Masuk ke kekuasaan boleh. Menyerahkan pikiran jangan.
Pengabdian menggunakan ilmu untuk mengoreksi kekuasaan.
Ketergantungan menggunakan ilmu untuk membenarkannya.
Kita gemar seminar: profesor, narasumber, moderator, sertifikat, foto bersama.
Backdrop selesai dipasang.
Masalah tetap di tempatnya.
Barangkali yang harus dijaga bukan jarak dari pemerintah, melainkan jarak dari kenyamanan.
Sebab terlalu nyaman dekat kekuasaan membuat pertanyaan terasa tidak sopan.
Akhirnya jawaban tersedia sebelum pertanyaan diajukan.
Kita menyebut Muhammadiyah gerakan ilmu.
Maka pertanyaannya:
Masihkah ilmu boleh membuat kita tidak nyaman?
Jika tidak, ilmu telah menjadi dekorasi.
Cendekiawan menjadi stempel.
Stempel membuat keputusan sah. Membuat kekuasaan tampak ilmiah.
Tetapi stempel tidak berpikir.
Jangan sampai gerakan yang dahulu mengajarkan keberanian berpikir melahirkan manusia yang hanya berani berpikir setelah mendapat izin.
Kemunduran ilmu tidak selalu dimulai ketika buku dibakar.
Kadang ia dimulai ketika orang berilmu mulai menghitung harga sebuah kebenaran.
Jakarta, 21 September 2026.
