Namanya Al-Qodar Purwo Sulistiyo, SH, MH. Kita biasa memanggilnya “Pak Qodar” atau “Mas Qodar”. Kabar bahwa beliau meninggal pada Kamis, 28 Mei 2026, sudah diketahui beberapa rekan di mana Pak Qodar berkhidmah. Kenangan tentang beliau, telah disampaikan beberapa orang melalui takziyah daring dan doa bersama yang dilaksanakan oleh Fakultas Hukum UMSURA (Universitas Muhammadiyah Surabaya) pada malam hari di hari yang sama.
Tulisan singkat ini semacam “kenangan” untuk mengikat makna tentang perjumpaan-perjumpaan Pak Qodar dengan kami, di mana beliau sebagai Ketua Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum UMSURA, dan kami sebagai Ketua Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Studi Islam dan Peradaban UMSURA.
Tentu, ada banyak perjumpaan dalam kegiatan formal, terlebih sebagai kapasitas sebagai pimpinan program studi, namun ada kenangan yang terdekat, yang membekas di kami, dan itu menjadi persaksian kami atas kepribadian Bapak Qodar.
Suatu saat, dalam kegiatan wisuda, kami merasa sudah cukup menghadiri kegiatan di dalam ruangan tempat wisuda dilaksanakan. Saat berada di luar, sambil memotret beberapa desain yang ada di luar ruangan, kami kemudian dipanggil Pak Qodar. Sapaan mujamalah yang beliau ungkapkan saat itu.
“Pak, kate moleh? Urung sarapan ta?”, beliau bertanya tiba-tiba sekenanya.
“Wes lah”, jawabku sambil tersenyum.
“Ayo, melu aku diluk, Ngincipi coffee break”.
Karena tidak terburu dengan kegiatan berikutnya, saya mengikuti Pak Qodar. Di ruangan tempat panitia dan tamu VVIP akan melaksanakan coffee break dan makan siang, kami mengobrol berdua. Berbagi kisah tentang kehidupan. Tentu, perjuangan beliau dan sang istri, Bu dr. Nur Mujaddidah Mochtar, M.Si (sebagai Sekretaris S1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran UMSURA) bisa menjadi inspirasi rekan, keluarga, terutama anak-anak beliau nanti.
Kenangan tentang sapaan beliau, obrolan “ringan” dan ajakan untuk “nyemil” sambil memperbingkan tentang perjuangan masing-masing, menjadikan kami bersaksi bahwa pribadi Bapak Qodar adalah pribadi yang baik hati.
Dalam beberapa kesempatan “persaksian” atas kematian seseorang, seringkali yang teringat dan melekat adalah perjumpaan-perjumpaan dalam momentum “non-formal”, di mana karakter dan sikap tidak perlu “dipermak” dan atau “ditutupi” dengan berbagai aksesoris dan tindakan prosedural, namun justru sikap yang muncul dalam situasi santai dan penuh keakraban yang membekas.
Perjumpaan yang paling dekat dan kami ingat, adalah saat pembukaan kantin UMSURA, 06 April 2026. Bersama dengan Direktur Bisnis UMSURA Dr. Ma’ruf Sya’ban, ST, SE, M.Ak, kami dan Pak Qodar berbincang beberapa hal ringan.
Kepedulian dan keramahan Pak Qodar terlihat saat beliau mengaku mengikuti status WhatsApp kami ketika melakukan safari Ramadan di Jepang, dan kita saling bertukar informasi dan jokes tentang Jepang. Keramahan dengan suasana santai di meja kantin siang itu, atau 2 bulan sebelum beliau meninggal, menjadi ingatan yang melekat di kami, tentang sosok Pak Qodar yang baik hati dan ramah.
Selamat jalan Bapak Al-Qodar Purwo Sulistiyo, S.H., M.H. Inna lillah wa inna ilaihi rajiun.
