Jangan Terlalu Cepat Memutuskan

Jangan Terlalu Cepat Memutuskan
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

#Menjaga Akal dan Lisan di Era yang Penuh Disrupsi

Kita sedang hidup dalam era yang penuh disrupsi. Teknologi telah mengubah cara manusia mendapatkan informasi, media sosial telah mengubah cara manusia menyampaikan informasi, dan algoritma telah mengubah cara sebuah informasi mendapatkan perhatian. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk diketahui masyarakat, hari ini dapat menyebar dalam hitungan menit.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh ikut terdisrupsi oleh perubahan zaman: standar kita terhadap kebenaran.

Sebab cepatnya informasi tidak otomatis menjadikannya benar. Banyaknya orang yang membagikan tidak otomatis menjadikannya fakta. Bahkan sebuah informasi yang tampil meyakinkan pun belum tentu benar sebelum kita mengetahui sumber dan dasar informasinya.

Al-Qur’an telah memberikan prinsip yang sangat jelas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“

” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6)

Ayat ini luar biasa relevan dengan kehidupan digital.

Perhatikan kata فَتَبَيَّنُوا — fatabayyanū.

Jangan langsung bertindak.

Jangan langsung percaya.

Jangan langsung menyebarkan.

Tabayyun terlebih dahulu.

Mengapa?

Karena Al-Qur’an langsung menyebut kemungkinan akibatnya:

أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ

kita dapat mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan.

Artinya, persoalan informasi bukan sekadar persoalan benar atau salah secara teoritis. Informasi mempunyai konsekuensi moral.

Satu informasi yang salah dapat melukai kehormatan seseorang. Satu kabar yang belum terverifikasi dapat membuat masyarakat panik. Satu tuduhan dapat menghancurkan hubungan. Dan satu fitnah yang terus dibagikan dapat menjadi dosa yang bergerak dari satu tangan ke tangan berikutnya.

Di sinilah kita perlu memahami sesuatu yang sering dilupakan manusia di media sosial:

Membagikan informasi adalah tindakan moral.

Ketika kita menekan tombol share, kita sedang memberikan otoritas kepada informasi itu untuk bergerak melalui diri kita.

Karena itu, jangan sampai kita berpikir, “Saya kan bukan yang membuat berita itu.”

Bisa jadi kita memang bukan pembuatnya.

Tetapi kalau berita itu ternyata dusta, lalu kita ikut menyebarkannya tanpa pemeriksaan, kita telah menjadi bagian dari rantai penyebarannya.

 

Tinggalkan Balasan

Search