Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan yang lebih keras:
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ
“(Ingatlah) ketika kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya sesuatu yang ringan, padahal di sisi Allah itu besar.” (QS. An-Nūr [24]: 15)
Ayat ini terasa seperti sedang berbicara kepada manusia yang hidup di tengah budaya forward, share, repost, dan viral.
تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ — kalian menerimanya dari satu lisan ke lisan yang lain.
Bukankah mekanismenya hari ini sangat mirip?
Seseorang menerima informasi.
Kemudian membagikannya.
Orang lain menerima.
Lalu membagikan lagi.
Yang berikutnya tidak lagi bertanya siapa sumber pertamanya. Ia hanya berkata, “Saya dapat dari teman.”
Lalu orang berikutnya berkata, “Sudah banyak yang membagikan.”
Akhirnya informasi yang semula belum jelas berubah menjadi sesuatu yang dianggap benar hanya karena terlalu banyak orang mengulanginya.
Padahal Al-Qur’an justru mengingatkan:
وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ
“Kalian mengatakan dengan mulut kalian apa yang kalian tidak memiliki pengetahuan tentangnya.”
Di sinilah persoalan epistemologi bertemu dengan akhlak.
Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang saya katakan?”
Tetapi:
“Apa dasar pengetahuan saya sehingga saya berani mengatakan itu?”
Allah bahkan memberikan prinsip yang lebih luas:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. “. (QS. Al-Isrā’ [17]: 36)
Perhatikan:
السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
pendengaran, penglihatan, dan hati.
Seakan-akan Al-Qur’an sedang mengajarkan sebuah rantai epistemologis:
Apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, lalu bagaimana hati dan akal kita mengolahnya — semuanya memiliki pertanggungjawaban.
Maka jangan heran jika Islam tidak hanya mengatur apa yang kita makan dan apa yang kita lakukan, tetapi juga apa yang kita dengar, apa yang kita katakan, dan apa yang kita sebarkan.
Nabi ﷺ juga memberikan peringatan yang sangat tegas:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang disebut berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Ini luar biasa, bro.
Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa orang tersebut harus menjadi pencipta kebohongan.
Cukup menceritakan semua yang ia dengar.
Karena tidak semua yang kita dengar layak kita ceritakan.
Dan dalam konteks zaman sekarang, kita bisa memahami relevansinya secara sangat sederhana:
Tidak semua yang masuk ke WhatsApp kita harus keluar kembali melalui WhatsApp kita.
Tidak semua video yang masuk ke ponsel kita harus masuk ke status kita.
Tidak semua berita yang membuat kita marah harus menjadi bahan unggahan kita.
Tidak semua informasi yang sesuai dengan keyakinan kita harus langsung kita jadikan pembenaran.
Karena boleh jadi kita sedang tidak menyebarkan kebenaran.
Boleh jadi kita sedang menyebarkan sesuatu yang belum kita ketahui kebenarannya.
Dan kalau ternyata informasi itu fitnah, kita ikut memperpanjang fitnah.
Kalau ternyata dusta, kita ikut menyebarkan dusta.
Kalau ternyata hanya dugaan, kita telah membantu mengubah dugaan menjadi seolah-olah fakta.
