Maka tabayyun bukan sekadar metode memeriksa berita. Tabayyun adalah akhlak epistemologis seorang Muslim.
Ia mengajarkan kita untuk tidak membiarkan kecepatan jempol mengalahkan ketelitian akal.
Ia mengajarkan kita bahwa diam sebelum tahu lebih baik daripada berbicara tanpa ilmu.
Dan di era yang penuh disrupsi, mungkin inilah bentuk keberanian yang semakin langka: berani tidak ikut-ikutan.
Ketika semua orang sedang berkomentar, kita berani berhenti.
Ketika semua orang sedang membagikan, kita berani memeriksa.
Ketika semua orang sudah mengambil kesimpulan, kita berani berkata:
“Sebentar. Apa sumbernya?”
Sebab seorang Muslim tidak hanya bertanggung jawab atas apa yang ia buat, tetapi juga harus berhati-hati terhadap apa yang ia teruskan.
Pada akhirnya, persoalannya sederhana tetapi sangat dalam:
Jangan sampai kita ingin menjadi orang yang menyampaikan kebenaran, tetapi tidak pernah memeriksa kebenaran informasi yang kita sampaikan.
Di zaman ketika informasi dapat bergerak lebih cepat daripada klarifikasi, menahan diri adalah bagian dari kecerdasan.
Dan mungkin, sebelum jempol menekan tombol share, ada baiknya hati kita terlebih dahulu bertanya:
Apakah ini benar? Dari mana saya tahu? Apa sumbernya? Dan apa akibatnya jika ternyata saya salah?
Karena bisa jadi, satu detik kita menahan jempol hari ini adalah cara kita menjaga lisan, menjaga kehormatan orang lain, dan menjaga diri kita sendiri di hadapan Allah.
Tabayyun sebelum menyebarkan.
Ilmu sebelum berbicara.
Kebenaran sebelum viral. (*)
Jangan Terlalu Cepat Memutuskan
