Kalau Tak Suka, Lewati Saja

Kalau Tak Suka, Lewati Saja
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Di media sosial, ego manusia kadang bekerja dengan cara yang aneh. Melihat orang lain sering memposting aktivitas, pencapaian, perjalanan, makanan, pekerjaan, atau kebahagiaannya, kita merasa terganggu. Bukan karena mereka merugikan kita, tetapi karena kita tidak menyukai apa yang mereka tampilkan. Padahal, media sosial menyediakan pilihan yang sangat sederhana: kalau tidak suka, ya skip saja. Tidak perlu setiap unggahan orang lain dijadikan persoalan.

Tidak semua yang diposting orang lain harus kita sukai, tetapi juga tidak semuanya harus kita komentari. Orang lain memiliki hak untuk menampilkan bagian hidup yang ingin mereka bagikan, sebagaimana kita memiliki hak untuk tidak melihatnya. Ketika ketidaksukaan berubah menjadi keinginan mengatur apa yang boleh diposting orang lain, persoalannya bukan lagi tentang konten, melainkan tentang ego yang merasa berhak menentukan kehidupan orang lain.

Dari sinilah kebiasaan memaksakan standar hidup sering bermula. Kita merasa cara hidup kita lebih wajar, lebih sederhana, lebih bermoral, atau lebih benar. Lalu kita mulai mengukur orang lain dengan penggaris yang kita buat sendiri. Mereka dianggap terlalu sering tampil, terlalu banyak membeli, terlalu mengejar karier, terlalu menikmati hidup, atau terlalu berbeda dari standar yang kita yakini.

Padahal, setiap orang memiliki latar belakang, kapasitas, dan prioritas yang berbeda. Kondisi finansial, fisik, pengalaman, lingkungan, bahkan tujuan hidup seseorang tidak bisa disamakan begitu saja. Apa yang terlihat mudah bagi kita mungkin merupakan perjuangan panjang bagi orang lain. Begitu pula sesuatu yang tidak kita inginkan belum tentu tidak bermakna bagi mereka.

Masalah menjadi lebih serius ketika standar pribadi digunakan untuk menghakimi. “Kalau saya bisa hidup sederhana, kenapa dia tidak?” atau “Kalau saya tidak pernah melakukan itu, mengapa dia melakukannya?” Pertanyaan semacam ini sering terdengar seperti nasihat, padahal diam-diam sedang memaksakan ukuran pribadi kepada kehidupan orang lain.

Tekanan pun muncul. Orang mulai merasa harus mengikuti gaya hidup tertentu agar diterima. Harus punya pekerjaan tertentu, rumah tertentu, kendaraan tertentu, penghasilan tertentu, bahkan harus menunjukkan kebahagiaan dengan cara yang dianggap benar oleh lingkungan. Akibatnya, seseorang bisa kehilangan keaslian dirinya hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain.

Hubungan sosial pun mudah rusak ketika perbedaan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Keluarga saling menuntut, teman saling membandingkan, pasangan saling mengukur, dan media sosial menjadi arena untuk menilai kehidupan orang lain. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan yang berada di balik sebuah unggahan.

Karena itu, belajar menahan ego adalah bagian penting dari kedewasaan sosial. Kita tidak harus menyukai semua yang dilakukan orang lain. Kita juga tidak wajib mengikuti gaya hidup mereka. Tetapi ketidaksukaan tidak otomatis memberi kita hak untuk mengatur, merendahkan, atau menghakimi.

Kalau sebuah unggahan tidak kita sukai, cukup lewatkan. Kalau gaya hidup seseorang tidak cocok dengan kita, tidak perlu ditiru. Kalau pilihan hidupnya berbeda, biarkan ia menjalani konsekuensinya selama tidak merugikan orang lain. Sebab hidup bukan seragam yang harus dipakai dengan ukuran yang sama. Kita boleh berbeda tanpa harus saling mengganggu. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search