Kemarau Panjang, Umat Dihimbau Salat Minta Hujan

Kemarau Panjang, Umat Dihimbau Salat Minta Hujan
www.majelistabligh.id -

Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir tidak hanya membawa hawa panas yang menyengat, tetapi juga dampak kekeringan di berbagai daerah. Tanah-tanah meretak, sumber air semakin menyusut, dan saudara-saudara kita di banyak wilayah mulai merasakan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Islam telah mengajarkan sebuah jalan spiritual yang mulia ketika bumi merindukan kesejukan: Salat Istisqa. Ibadah ini bukan sekadar bentuk ikhtiar memohon turunnya air dari langit, melainkan momentum bagi kita untuk menundukkan hati, mengakui kelemahan, dan mengetuk pintu langit dengan keikhlasan.

Mengiringi salat Istisqa, taubat dan memperbanyak istigfar menjadi kunci penting yang tak terpisahkan, sebagaimana janji Allah bahwa ampunan-Nya adalah pembuka jalan bagi keberkahan dan curahan hujan.

Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan ini, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur tergerak untuk mengimbau seluruh warga dan umat Islam agar bersatu merapatkan shaf dalam pelaksanaan salat Istisqa dan doa minta hujan.

Mari kita basahi lidah dan hati kita dengan istigfar, memohon agar Allah Swt berkenan mengampuni dosa-dosa kita dan segera menurunkan hujan—bukan hujan yang membawa bencana, melainkan hujan yang penuh berkah, membawa kehidupan, bermanfaat, serta mengembalikan kesegaran bagi bumi dan seluruh penghuninya.

Tuntunan Salat Istisqa

Salat Istisqa dilaksanakan karena merupakan salah satu bentuk doa dan tindakan spiritual dalam Islam yang dilakukan untuk memohon hujan dari Allah. Penyelenggaraan salat Istisqa biasanya terkait dengan kondisi cuaca yang ekstrem, seperti kekeringan yang berkepanjangan atau musim kemarau yang parah. Berikut tata cara salat istisqa berdasarkan fatwa Majelis Tarjih:

  1. Persiapan Sebelum Salat Istisqa:

Sebelum pelaksanaan salat Istisqa, masyarakat diharapkan untuk memperbanyak taubat, memohon ampun, dan melakukan amal shalih di hari-hari menjelang pelaksanaan salat Istisqa, seperti berpuasa sunnah, berzikir, dan bersedekah.

  1. Pakaian Sederhana:

Saat melaksanakan salat Istisqa, diharapkan mengenakan pakaian yang sederhana tanpa hiasan seperti pada salat ‘Īd.

  1. Penyelenggaraan Pada Hari Jumat:

Pada hari Jumat, khatib Jumat memanjatkan doa Istisqa di akhir khutbah Jumat. Selama doa ini, para jamaah dan khatib Jumat mengangkat tangan lebih tinggi dari biasanya.

  1. Pelaksanaan pada Hari Sabtu/Ahad:

Jika hujan belum turun setelah doa Istisqa pada Jumat, maka pada pagi hari Sabtu atau Ahad setelah matahari terbit (syurūq), salat Istisqa diadakan secara khusus. Salat ini dapat dilakukan di tanah lapang/area terbuka atau di dalam masjid.

  1. Salat Istisqa Dilakukan:

Imam memimpin salat Istisqa sebanyak dua rakaat dengan pembacaan yang jelas (jahr). Tidak ada azan dan iqamah. Tidak ada takbīrāt zawāid seperti dalam salat ‘idain, hanya seperti pelaksanaan salat Jumat.

  1. Khutbah Pendek:

Setelah salat, imam memberikan khutbah singkat di atas mimbar. Khutbah ini dapat diberikan sebelum atau setelah salat Istisqa. Selama khutbah, imam memperbanyak istighfar (memohon ampun) di sela-sela khutbahnya.

  1. Doa Bersama:

Di akhir khutbah, imam dan jamaah mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berdoa bersama. Salah satu contoh doa yang dapat dibaca adalah doa yang mencakup permohonan hujan dan rahmat Allah. Misalnya doa di bawah ini:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ.

اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. أَنْتَ الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ. أُنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِيْنٍ.

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْتًا مَرِيْئًا طَبَقًا مَرِيعًا غَدَقًا عَاجِلًا غَيْرَ رَائِثٍ.

  1. Perubahan Pakaian:

Setelah doa bersama, imam dan jamaah membalikkan bagian luar sorban/selendang mereka menjadi bagian dalam. Bagian sorban/selendang yang kanan dipindahkan ke kiri. Setelah itu, semua mengusapkan kedua tangan di wajah.

  1. Penutup Salat:

Imam turun dari mimbar dan kembali menghadap jamaah.

Dengan mengikuti tata cara ini, masyarakat dapat menjalankan salat Istisqa dengan mudah dan berharap atas pertolongan dari Allah untuk mengatasi cuaca ekstrem atau kekeringan yang mereka alami.

Salat Istisqa adalah bentuk doa dan tindakan spiritual yang menunjukkan ketergantungan manusia kepada Allah dalam menghadapi musibah cuaca yang ekstrem. || Referensi: Keputusan MTT PP Muhammadiyah dalam Muktamar Tarjih XX tahun 1976 di Garut; dan Fatwa-Fatwa MTT PP Muhammadiyah dalam buku-buku Tanya Jawab Agama.

 

Tinggalkan Balasan

Search