Bendera setengah tiang dikibarkan di seantero wilayah “Kerajaan Korupsi” yang terletak di Negeri Anta Berantah. Pekan ini menjadi hari-hari yang penuh air mata, kecemasan, dan trauma mendalam bagi para penikmat uang rakyat. Warga kerajaan yang biasanya adem ayem, mendadak berguncang. Berturut-turut, pada Rabu, 3 Juni 2026, dan Kamis, 4 Juni 2026.
Dua hari penuh duka itu membuat para elite kerajaan gemetaran, sembari meraba-raba apakah mereka yang berikutnya akan mengenakan rompi mentereng berwarna oranye.
Malapetaka pertama datang pada 3 Juni 2026. Tiga petinggi dari lembaga yang seharusnya mengurusi isi piring rakyat agar tidak busung lapar, justru kedapatan terlalu lahap “menyantap” anggaran.
Belum sempat “Kerajaan Korupsi” selesai meratapi tiga sejawat mereka, petir kembali menyambar pada hari Kamis, 4 Juni 2026. Kali ini giliran KPK menahan orang nomor dua pada lembaga yang bertugas menjaga pintu gerbang negara.
Melihat fenomena horor dua hari berturut-turut ini, masyarakat penonton di bawah panggung mulai kasak-kusuk: Bagaimana bisa orang-orang yang dipilih melalui proses seleksi ketat, disumpah di bawah kitab suci, justru berakhir melenceng begitu keluar dari pintu ruang pelantikan?
Jika dibedah dengan kacamata satire, ada tiga kasta manusia yang berhasil lolos masuk ke dalam ekosistem pemerintahan:
- Kasta “Domba Berbulu Serigala” Mereka adalah aktor watak kelas suhu. Sejak awal, mereka berpura-pura menjadi manusia paling suci, paling lurus, dan paling berintegritas demi bisa menyelinap masuk ke dalam sistem. Begitu gerbang kekuasaan terbuka dan aroma uang miliaran tercium, topeng kesalehan itu lepas. Naluri keserakahan aslinya langsung menyala, dan mereka pun mulai menjarah dengan riang gembira.
- Kasta “Hobi dan Berbakat” Kelompok ini adalah mereka yang memang dasarnya sudah “tidak baik” dan punya rekam jejak penuh dosa di masa lalu. Namun, berkat keajaiban politik, mereka justru diberi panggung baru di pemerintahan. Mereka tidak akan berpikir dua kali untuk mengulangi hobi lama mereka dengan skala yang jauh lebih masif.
- Kasta “Malaikat yang Tersesat” Ini yang paling tragis. Mereka awalnya adalah orang-orang baik yang punya niat tulus membangun negeri. Namun, ekosistem di dalam pemerintahan ternyata memiliki magnet koruptif yang terlalu kuat. Niat baik mereka luluh lantak, tergerus oleh bisikan gaib lingkungan sekitar.
Namun, jangan salah sangka. Air mata di Kerajaan Korupsi ini tidak akan bertahan lama. Di sini, kesedihan atas tertangkapnya rekan sejawat berjalan sangat singkat. Mengapa harus meratap berlarut-larut jika “stok” pemain cadangan di dalam pemerintahan masih melimpah? Gugur satu, tumbuh seribu. Satu pejabat masuk sel, sudah ada antrean panjang di belakangnya yang siap menggantikan posisi dengan senyum yang tak kalah manis.
Tentu saja, tertangkapnya para pion ini memaksa para elite di kerajaan korupsi memutar otak. Karena strategi lama telah terbongkar oleh aparat, mereka dipastikan akan mengubah taktik operasi. Langkah senyap akan segera dirumuskan dalam rapat-rapat rahasia di bawah terangnya lampu restoran mewah. Mereka merumuskan agar jalur logistik bawah meja tetap mengalir mulus tanpa terendus.
Mengapa mereka begitu gigih? Jawabannya sederhana: kelezatan kue kekuasaan terlalu aduhai untuk dilewatkan. Wanginya anggaran negara adalah daya tarik magis yang luar biasa. Demi bisa mencicipi dan menguasai potongan kue terbesar, mereka akan terus berjuang dengan segala cara, mulai dari cara yang halus lewat regulasi pesanan, hingga cara kasar berupa suap terang-terangan. Bagi mereka, mundur bukanlah pilihan selama piring kue belum bersih tak bersisa.
Inilah cerita tentang Kerajaan Korupsi, yang entah ada di Negeri mana. (*)
