#Antara Klaim, Kehadiran, dan Islam Berkemajuan
Beberapa waktu lalu, saya hadir dalam salah satu agenda konsolidasi Pimpinan Cabang, Ranting, dan Takmir Masjid Muhammadiyah. Agenda resminya adalah evaluasi dan penguatan program. Tapi di sela-sela sesi, ada sebuah pertanyaan yang tiba-tiba mengudara dan membuat ruangan sejenak hening.
Seorang bapak takmir, usianya mungkin lima puluhan, datang dari sebuah Ranting di pinggiran kota mengangkat tangan di tengah sesi. Suaranya tenang, tapi ada getaran di ujungnya.
“Masjid kami itu masjid Muhammadiyah,” katanya. “Tapi kajiannya sudah bukan kajian Muhammadiyah. Ustaz-ustaznya bukan dari kita. Jamaahnya pun sudah bergeser. Gimana, Pak — ini salah kami?”.
Tidak ada yang langsung menjawab. Pertanyaan itu menggantung di udara, seperti mencari tempat bertumpu.
Belakangan saya sadar, itu bukan pertanyaan yang lahir dari satu masjid saja. Dalam berbagai forum serupa yang pernah saya hadiri, dari Cabang di kota besar hingga Ranting di pinggiran, pertanyaan itu selalu kembali muncul, dengan wajah dan intonasi yang berbeda, tapi muatan yang sama: “Mengapa masjid kita terasa bukan milik kita lagi?”
Siapa Merawat, Dia yang Menghuni
Ada hukum sederhana yang berlaku dalam setiap ruang sosial, termasuk masjid: siapa yang paling konsisten hadir, paling tekun melayani, dan paling sabar membangun relasi dengan jamaah, dialah yang pada akhirnya memiliki pengaruh terbesar.
Tidak ada konspirasi di balik ini. Tidak ada operasi terselubung. Hanya hukum alam tentang kehadiran.
Bayangkan sebuah kebun yang ditinggalkan. Tidak ada yang menyiangi, tidak ada yang menyiram, tidak ada yang merawat. Dalam hitungan bulan, tanaman liar akan tumbuh memenuhi setiap sudut. Bukan karena tanaman liar itu jahat melainkan karena alam tidak menoleransi kekosongan.
Masjid bekerja dengan cara yang tidak jauh berbeda. Ruang sosial yang tidak dirawat akan diisi. Bukan oleh musuh imajiner, bukan oleh provokator melainkan oleh siapa pun yang hadir, rajin, dan peduli.
Maka pertanyaannya bukan ‘siapa yang masuk ke masjid kita?’ Pertanyaan yang lebih jujur adalah: ‘Di mana kita selama ini?’
Identitas Bukan Prasasti
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern terbesar kedua di Indonesia yang kini telah melampaui satu abad usia — memiliki sejarah yang tidak kecil dalam membangun peradaban Islam di negeri ini. Masjid, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi: jejak amal usahanya tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Tetapi ada paradoks yang perlu diakui dan kita refleksikan : memiliki aset bukan berarti memiliki kehadiran.
Dalam terminologi budaya organisasi Muhammadiyah sendiri, ada prinsip yang disebut tajdid, pembaruan yang tidak hanya berarti purifikasi akidah, tetapi juga modernisasi cara berpikir dan bergerak. Tajdid bukan sekadar soal mengkritik praktik yang dianggap menyimpang. Lebih jauh, ia menyimpan pertanyaan yang lebih berat: seberapa jauh kita sendiri sudah bergerak, hadir, dan relevan?
Identitas, rasanya, tidak hidup dari prasasti di dinding gerbang. Ia hidup dari wajah-wajah yang terlihat hari ini, imam yang bisa ditemui, takmir yang mengangkat telepon, kajian yang terasa relevan, kader yang tahu nama-nama jamaah.
Teologi Al-Ma’un yang Perlu Diingat Kembali
KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dikenal karena satu kegelisahan besar yang menggerakkannya: mengapa umat Islam membaca Al-Qur’an dengan fasih, tetapi tidak merawat anak yatim, tidak memberi makan orang miskin, tidak hadir secara nyata di tengah sesama yang menderita?
Dari kegelisahan itulah Muhammadiyah lahir, sebuah gerakan Islam yang tidak puas hanya dengan ibadah ritual, melainkan mendorong umat untuk hadir secara nyata dalam kehidupan sosial masyarakat. Teologi Al-Ma’un inilah yang menjadi ruh gerakan ini: bahwa keislaman yang sejati diukur dari seberapa besar kemanfaatan nyata yang dihadirkan kepada sesama.
Ketika masjid Muhammadiyah mulai bergeser, maka pertanyaan yang paling mendasar bukanlah ‘siapa yang masuk?’ — melainkan: seberapa nyata kemanfaatan Muhammadiyah dirasakan oleh jamaah masjid tersebut?
Kalau jamaah tidak merasakan kehadiran, pelayanan, dan perhatian dari elemen-elemen Muhammadiyah — takmir yang aktif, kajian yang relevan, program sosial yang menyentuh kehidupan nyata, kader yang hadir dengan tulus — maka wajar jika mereka mencari referensi komunitas yang lebih responsif. Ini bukan pengkhianatan. Ini adalah respons manusiawi yang sangat normal.
