Ketika Masjid Muhammadiyah Mengalami Pergeseran

Ketika Masjid Muhammadiyah Mengalami Pergeseran
*) Oleh : Dr. Hasan Ubaidillah, SE, MM
Ketua LPCR-PM PWM Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Kaderisasi: Kekuatan yang Sering Tertidur
Salah satu kekuatan Muhammadiyah yang sering tidak dimaksimalkan adalah ekosistem kaderisasinya yang luar biasa: Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Hizbul Wathan, hingga sederet organisasi otonom lainnya. Ini adalah infrastruktur pengkader yang, jika digerakkan dengan terencana, bisa mengisi setiap sudut masjid dengan wajah-wajah muda yang enerjik dan berdedikasi.

Kepribadian Muhammadiyah, salah satu dokumen penting dalam khazanah organisasi ini menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah Islam amar ma’ruf nahi munkar. Dan dakwah, setidaknya begitu saya memahaminya, tumbuh bukan dari pengumuman, melainkan dari perjumpaan.

Islam Berkemajuan: Bukan Slogan, tapi Cara Hidup
Ada godaan yang sangat manusiawi saat menyaksikan masjid Muhammadiyah ‘bergeser’: langsung merespons secara defensif, mengklaim kembali secara formal, atau melabeli kelompok yang hadir sebagai ancaman yang harus dihadapi.

Tapi respons seperti itu justru kontraproduktif. Pertama, karena konflik terbuka di dalam masjid hanya akan mengusir jamaah biasa yang sebenarnya hanya butuh ketenangan dan pelayanan. Kedua, (dan ini yang lebih penting) karena masalah sesungguhnya bukan soal ‘siapa yang masuk’, melainkan soal mengapa kita sendiri kurang hadir.

Muhammadiyah dikenal sebagai pengusung Islam Berkemajuan. sebuah visi keislaman yang rasional, moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan peradaban. Visi itu terasa hidup bukan ketika dikumandangkan di podium Seminar, melainkan ketika terasa di lantai masjid: pengelolaan yang terbuka, kajian yang berbasis ilmu, ruang yang nyaman bagi yang muda.

Perbedaan pemahaman keagamaan adalah bagian dari dinamika kehidupan umat yang tidak perlu ditakuti. Ia baru menjadi masalah ketika berkembang menjadi ketegangan yang tidak dikelola dengan bijak, sehingga menjauhkan masjid dari fungsi utamanya sebagai ruang persaudaraan dan pelayanan umat.

Masjid Sebagai Pusat, Bukan Sekadar Simbol
Dalam tradisi Islam yang panjang, masjid bukan sekadar tempat shalat. Ia adalah pusat pendidikan, pusat peradaban, pusat kebangkitan komunitas. Muhammadiyah yang lahir dari semangat Islam yang hidup dan berdaya guna, sepertinya lebih cocok jika masjid-masjidnya menjadi ruang yang bernapas bukan sekadar warisan yang dipajang.

Di beberapa masjid Muhammadiyah yang masih terasa hidup, saya pernah melihat pojok buku kecil di selasar, kelas keterampilan yang ramai di akhir pekan, dan papan pengumuman keuangan yang tergantung jelas di depan pintu. Itu bukan kemewahan, itu cukup untuk membuat jamaah merasa di rumah.

Cermin, Bukan Sekadar Persoalan
Pergeseran yang terjadi di sebagian masjid Muhammadiyah adalah cermin, bukan sekadar soal. Cermin yang memantulkan gambar tentang seberapa kuat kita merawat apa yang kita miliki. Cermin yang jujur dan tidak bisa dibantah dengan sekadar klaim sejarah.

Fenomena ini, sebaiknya tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan eksternal, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat tata kelola, kaderisasi, dan pembinaan jamaah dari dalam. Akan sangat disayangkan jika perhatian lebih banyak tersita untuk menjaga status kepemilikan, sementara masjidnya sendiri perlahan sepi dari kehidupan.

Sebab identitas sebuah masjid seperti identitas sebuah gerakan, tidak hanya ditentukan oleh siapa yang membangunnya dulu, tetapi oleh bagaimana nilai, tradisi, pelayanan, dan pembinaan terus dihidupkan hari ini.
“Hidup-hidupkan Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” — KH Ahmad Dahlan
Kalimat itu, lebih dari satu abad kemudian, masih terasa tepat sasaran. Terutama ketika kita berdiri di depan masjid yang namanya masih Muhammadiyah , tetapi jiwanya sedang menunggu siapa yang mau pulang dan merawatnya.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search