Ketum ’Aisyiyah: 7 Pendidikan Karakter untuk Menghindari Perilaku Menyimpang

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah. (ist)
www.majelistabligh.id -

Pendidikan karakter yang kuat sejak dini merupakan benteng utama dalam mencegah anak terjerumus ke dalam berbagai perilaku menyimpang, termasuk homoseksualitas. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah.

Menurut Salmah, keluarga memegang peranan paling krusial dalam menanamkan nilai-nilai dasar yang akan membentuk kepribadian anak hingga mereka dewasa.

“Kita harus menanamkan keimanan dan ketakwaan sejak dini. Iman menjadi fondasi utama agar anak memiliki pegangan hidup yang kuat di tengah berbagai tantangan zaman,” ujar Salmah seperti diberitakan republika, Kamis (4/6/2026).

Salmah mengungkapkan, setidaknya ada tujuh karakter utama yang wajib ditanamkan orang tua kepada anak demi menghadapi tantangan zaman:

  1. Memperkuat Keimanan dan Ketakwaan. Anak harus dibekali keyakinan yang kokoh kepada Tuhan agar tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran yang menjauhkan mereka dari agama. “Kecenderungan anak muda sekarang adalah semakin jauh dari agama, bahkan ada yang mulai bersikap agnostik. Karena itu, penanaman iman harus dimulai sejak kecil,” ucapnya.
  2. Membiasakan Taat Beribadah. Ibadah tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga membentuk kepedulian sosial terhadap sesama.
  3. Menanamkan Akhlakul Karimah (Budi Pekerti Luhur). Hal ini bisa dimulai dari pendidikan etika sederhana di rumah, seperti menghormati tamu, berbagi dengan tetangga, dan menghargai orang lain.
  4. Membangun Pola Pikir Inovatif dan Terbuka. Dalam tradisi Muhammadiyah, konsep ini dikenal sebagai berpikir tajdid (pembaruan). Anak-anak perlu diajari untuk terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, adaptif terhadap perubahan zaman, serta bijak dalam memanfaatkan teknologi.
  5. Membimbing Anak agar Bersikap Moderat. Salmah menekankan pentingnya memahami keseimbangan hidup, sehingga anak mampu membawa manfaat bagi lingkungan sekitar tanpa bersikap ekstrem.
  6. Membiasakan Amal Saleh. Mendorong anak melakukan tindakan nyata yang memberikan kemaslahatan, baik bagi internal keluarga maupun masyarakat luas.
  7. Menanamkan Sikap Toleran dan Inklusif. Anak harus diajarkan menghormati perbedaan agama, budaya, dan latar belakang sosial yang menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia. “Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam. Anak harus belajar menghargai orang lain, mampu bekerja sama, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan,” tambahnya.

Di akhir pemaparannya, Salmah menegaskan bahwa cita-cita mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 harus dimulai dari garis start terkecil, yaitu lingkungan keluarga. Oleh karena itu, penguatan karakter di rumah adalah investasi jangka panjang yang paling penting bagi masa depan bangsa.

“Kalau keluarga kuat, maka masyarakat juga kuat. Dari keluarga yang baik, akan lahir generasi yang beriman, berakhlak, cerdas, moderat, dan bermanfaat bagi sesama,” pungkas Salmah. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search