KHGT, dari Ibadah Menuju Peradaban

*) Oleh : Rusydi Umar
Dosen S2 Informatika, Universitas Ahmad Dahlan, Anggota MPI PP Muhammadiyah (2015-2022)
www.majelistabligh.id -

Setiap kali Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) menjadi bahan pembicaraan, pertanyaan yang paling sering muncul biasanya sederhana: kapan umat Islam akan memulai Ramadan, merayakan Idulfitri, atau melaksanakan Iduladha secara bersamaan? Pertanyaan itu wajar, karena selama ini kalender Hijriah memang identik dengan penentuan waktu ibadah.

Namun, apabila KHGT hanya dipahami sebatas penetapan awal bulan Hijriah, sesungguhnya kita sedang melihat sebuah gagasan besar melalui jendela yang sangat sempit. KHGT bukan hanya berbicara tentang kapan umat beribadah, tetapi juga mengajak kita memikirkan bagaimana umat Islam membangun keteraturan, persatuan, dan peradaban melalui sebuah sistem penanggalan yang dapat menjadi rujukan bersama.

Sejak awal, Islam hadir bukan hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya. Syariat tidak hanya berbicara tentang salat, puasa, zakat, dan haji, tetapi juga mengatur perdagangan, keadilan, pencatatan transaksi, pembagian warisan, musyawarah, hingga tata kehidupan bermasyarakat. Islam tidak berhenti di ruang ibadah, melainkan membimbing lahirnya sebuah masyarakat yang tertib dan berkeadaban.

Dalam kerangka itulah waktu memperoleh kedudukan yang sangat penting. Al-Qur’an berulang kali mengajak manusia memperhatikan pergantian malam dan siang, peredaran matahari dan bulan, serta keteraturan alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah. Semua itu menunjukkan bahwa waktu bukanlah sesuatu yang berjalan tanpa makna. Waktu adalah bagian dari sunnatullah yang menghadirkan keteraturan dalam kehidupan.

Keteraturan tersebut kemudian diwujudkan manusia dalam bentuk kalender. Kalender bukan sekadar kumpulan angka yang berganti setiap hari, melainkan sistem yang memungkinkan masyarakat mengatur aktivitasnya secara bersama-sama. Melalui kalender, orang dapat merencanakan perjalanan, menyusun agenda pendidikan, mengatur aktivitas ekonomi, menentukan pelaksanaan ibadah, hingga membangun kerja sama lintas wilayah dan lintas negara.

Tidak mengherankan jika setiap peradaban besar selalu memiliki sistem penanggalan yang kokoh. Kalender menjadi bagian dari infrastruktur sosial yang menopang berkembangnya ilmu pengetahuan, perdagangan, pemerintahan, dan kehidupan masyarakat. Sulit membayangkan sebuah peradaban berkembang tanpa adanya kesepakatan mengenai waktu.

Karena itu, ketika Muhammadiyah mengembangkan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar mekanisme penentuan awal bulan. Yang sedang diupayakan adalah sebuah sistem waktu yang mampu menjadi titik temu bagi umat Islam di berbagai belahan dunia.

Visi ini lahir dari kesadaran bahwa umat Islam kini hidup dalam dunia yang semakin terhubung. Mobilitas manusia semakin tinggi, komunikasi berlangsung dalam hitungan detik, dan berbagai aktivitas keagamaan maupun sosial melintasi batas-batas negara.

Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan terhadap sistem kalender yang memiliki orientasi global menjadi semakin relevan. Keseragaman kalender bukan dimaksudkan untuk menghapus keragaman pandangan fikih yang telah berkembang selama berabad-abad. Sebaliknya, ia merupakan ikhtiar menghadirkan kepastian dalam pengelolaan waktu sehingga kehidupan umat dapat berjalan lebih teratur dan terkoordinasi.

Di sinilah letak pergeseran cara pandang yang ditawarkan KHGT. Selama ini kalender sering dipahami sebagai alat untuk menjawab pertanyaan, “Kapan kita mulai berpuasa?” KHGT mengajak umat mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar, “Bagaimana waktu dapat menjadi sarana memperkuat persatuan dan membangun peradaban Islam?”

Pertanyaan kedua inilah yang sering luput dari perhatian. Padahal sejarah menunjukkan bahwa peradaban besar tidak hanya dibangun oleh gagasan-gagasan besar, tetapi juga oleh sistem yang mampu mengatur kehidupan masyarakat secara efektif. Standar ukuran, sistem administrasi, mata uang, jaringan komunikasi, dan kalender merupakan bagian dari fondasi yang memungkinkan sebuah masyarakat berkembang dengan tertib.

Tidak ada peradaban yang tumbuh di atas ketidakpastian. Kepastian hukum, kepastian administrasi, dan kepastian waktu merupakan syarat penting bagi berkembangnya kehidupan bersama. Dalam konteks itu, kalender bukan hanya persoalan astronomi, melainkan juga bagian dari infrastruktur sosial yang mendukung kemajuan umat.

Muhammadiyah memiliki tradisi panjang dalam memandang persoalan keagamaan dengan perspektif kemaslahatan yang lebih luas. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah tidak hanya membangun masjid, tetapi juga sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, serta berbagai institusi yang menopang kehidupan masyarakat. Semangat tajdid yang menjadi ciri Muhammadiyah selalu mendorong lahirnya pembaruan yang menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariat.

Dalam konteks itulah KHGT dapat dipahami sebagai bagian dari ikhtiar tajdid. Pembaruan tidak selalu berarti mengubah ajaran agama, tetapi sering kali berupa pengembangan sistem yang membuat nilai-nilai Islam dapat diwujudkan secara lebih efektif dalam kehidupan modern. Kalender merupakan salah satu sistem tersebut. Ia mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya menyentuh berbagai aspek kehidupan umat.

Tentu saja, kajian mengenai KHGT masih terus berkembang. Diskusi astronomi, fikih, maupun aspek implementasinya akan terus berlangsung sebagai bagian dari tradisi keilmuan yang sehat. Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan. Yang tidak boleh hilang adalah kesadaran bahwa seluruh ikhtiar tersebut bertujuan menghadirkan kemaslahatan yang lebih besar bagi umat.

Pada akhirnya, KHGT mengingatkan kita bahwa ibadah dan peradaban bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru ibadah yang dijalankan secara tertib akan melahirkan masyarakat yang tertib, dan masyarakat yang tertib memiliki peluang lebih besar untuk membangun peradaban yang maju.

Ketika umat Islam mulai memandang kalender bukan hanya sebagai penentu awal puasa atau hari raya, melainkan sebagai bagian dari sistem yang memperkuat keteraturan kehidupan bersama, saat itulah kita sedang melangkah dari cara pandang yang bersifat ritual menuju cara pandang yang berorientasi pada peradaban. Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari ikhtiar menghadirkan Kalender Hijriah Global Tunggal bagi umat Islam masa kini. || sumber: suaramuhammadiyah.id

 

Tinggalkan Balasan

Search