Lazismu Jawa Timur menerjunkan program Kampung Berdaya Unggas Petelur guna mendobrak keterbatasan ekonomi warga rentan di Kabupaten Blitar.
Mengoptimalkan pendayagunaan zakat produktif, program berbasis rantai nilai terintegrasi dari hulu ke hilir ini memberdayakan 20 penerima manfaat (mustahik) dari Desa Ampel Gading (Kecamatan Selorejo) dan Desa Tunggorono (Kecamatan Doko).
Para peserta program terdiri dari buruh tani, pekerja serabutan, pelaku usaha mikro, hingga pensiun. Mereka tak sekadar diberi modal fisik, melainkan dibina secara holistik—mulai dari penyediaan kandang, bibit ayam petelur (pullet), pakan, obat-obatan, hingga akses pemasaran.
Perwakilan Lazismu Jawa Timur, Agus Lukman Hidayat, menjelaskan bahwa kunci keberhasilan program ini terletak pada pendekatan ekosistem usaha yang terintegrasi.
“Kami tidak hanya memberikan bantuan aset, tetapi membangun ekosistem usaha dari hulu ke hilir. Bantuan dialokasikan lengkap mulai dari sarana produksi hingga integrasi pemasaran,” ujar Agus.
Untuk mengeksekusi program ini, Lazismu menggandeng kemitraan lokal, seperti Dayat Farm dari Jatinom dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Blitar.
Dongkrak Keuntungan
Strategi pemasaran menjadi salah satu terobosan penting dalam program ini. Pendamping program, Sigit Prasetyo, mengungkapkan bahwa hasil panen telur disalurkan langsung ke pasar lokal dan toko eceran tanpa melalui jalur tengkulak.
“Strategi memotong rantai distribusi ini memberikan nilai tambah keuntungan sekitar Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram telur. Tambahan ini langsung dirasakan warga untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga,” terang Sigit.
Dampak nyata strategi ini dirasakan langsung oleh Budi Santoso, penerima manfaat asal Desa Tunggorono. Sebelum bergabung, Budi hanya mengandalkan pekerjaan serabutan sebagai buruh bangunan dan tani dengan penghasilan tidak menentu.
“Dulu penghasilan saya sangat pas-pasan. Di periode pertama kami mengelola 400 ekor ayam, dan kini di periode kedua sudah berkembang menjadi 688 ekor. Hasil penjualannya sangat membantu menopang kebutuhan harian dan biaya sekolah anak,” kata Budi. (*/tim)
