Kedutaan Besar (Kedubes) Palestina untuk Indonesia mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat dan menangkap para peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) atau Armada Keteguhan Global.
Dalam pernyataan resminya, Kedubes Palestina menegaskan bahwa GSF tengah menjalankan misi murni kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan ke Jalur Gaza. Tindakan pencegatan yang dilakukan militer Israel di perairan internasional tersebut dinilai telah melanggar hukum internasional dan prinsip Hak Asasi Manusia (HAM).
“Kedutaan Besar Negara Palestina untuk Republik Indonesia mengecam keras tindakan kriminal Israel yang dilakukan oleh tentara pendudukan terhadap para peserta Armada Keteguhan Global (Global Sumud Flotilla/Asfuthur Ash-Shumud). Mereka adalah para pahlawan pembela hak asasi manusia, keadilan, dan hukum internasional,” tulis pernyataan resmi Kedubes Palestina untuk RI yang dikutip pada Rabu (20/5/2026).
Dalam kesempatan yang sama, Kedubes Palestina juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang mendalam kepada pemerintah serta seluruh rakyat Indonesia yang dinilai konsisten dalam membela hak-hak warga Palestina.
“Kami senantiasa berdiri bersama seluruh peserta armada ini, khususnya saudara-saudari kami dari Indonesia. Kami berdoa kepada Allah Swt agar mereka dapat kembali ke Tanah Air dengan selamat,” lanjut pernyataan tersebut.
Pihak Kedubes Palestina menambahkan bahwa mereka tidak terkejut dengan tindakan represif tersebut. Menurut mereka, aksi ini melengkapi rekam jejak panjang pendudukan dan kekerasan Zionis terhadap warga sipil di Jalur Gaza selama berpuluh-puluh tahun.
Meski demikian, Palestina menegaskan bahwa segala bentuk intimidasi dari tentara maupun pemukim ilegal Israel tidak akan menggoyahkan keteguhan mereka. Sebaliknya, tindakan ini justru memicu semangat rakyat Palestina untuk terus bertahan dan melanjutkan perjuangan hingga Palestina—termasuk seluruh tempat suci Islam dan Kristen—berhasil dibebaskan.
Kapal yang Dicegat, 5 WNI Ditahan
Sementara itu, laporan terbaru dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menunjukkan bahwa skala pencegatan oleh militer Israel terus meluas. Jika sebelumnya dilaporkan ada 17 kapal yang dicegat, kini jumlahnya melonjak drastis menjadi 40 kapal.
GPCI mencatat, sebanyak 332 orang dari total 400 peserta misi kemanusiaan tersebut kini ditahan oleh militer Israel. Dari sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang bergabung dalam misi ini, lima di antaranya dipastikan turut ditahan.
Empat dari lima WNI yang ditahan tersebut merupakan jurnalis yang sedang bertugas, yaitu:
- Bambang Noroyono (Republika) – berada di Kapal BorAlize.
- Andre Nugroho (Tempo) – berada di Kapal Ozgurluk.
- Rahendra Herubowo (Kontributor iNews) – berada di Kapal Ozgurluk.
- Thoudy Badai (Republika) – berada di Kapal Ozgurluk.
Sementara satu WNI lainnya adalah Andi Angga Prasadewa, yang merupakan relawan dari lembaga filantropi Rumah Zakat. (*/tim)
