Ketika institusi negara yang diamanahi mandat untuk pemenuhan gizi anak sekolah berjalan miring, sebuah gerakan sipil keagamaan justru tegak berdiri, melangkah melampaui ketergantungan anggaran, demi memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang kurang makan.
Kasus korupsi yang terjadi pada Badan Gizi Nasional (BGN) membuat publik terperangah. Begitu kejamnya modus operandi yang digunakan. Mulai dari praktik jual beli izin Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mark-up pengadaan barang seperti gawai hingga motor listrik, sampai pemotongan dana insentif harian yang seharusnya menjadi hak para pelayan gizi di garda terdepan.
Di tengah kegaduhan dan rasa sinisme publik yang memuncak terhadap lembaga gizi pemerintah, sebuah realitas indah terjadi di sudut lain negeri ini. Muhammadiyah, organisasi Islam yang lahir dari rahim kepedulian sosial, telah meluncurkan Badan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM) sejak 26 April 2026 lalu.
Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (SPPGM), organisasi ini memilih bertransformasi, menegakkan sistem kemandirian pangan, dan merawat gizi generasi masa depan dengan satu komitmen yang menggetarkan: “Jalan terus dengan atau tanpa anggaran pemerintah.”
Manifestasi Teologi Al-Ma’un
Langkah progresif Muhammadiyah ini bukanlah sebuah kebetulan sosiologis, melainkan buah matang Teologi Al-Ma’un yang telah ditanamkan oleh KH. Ahmad Dahlan lebih dari seabad lalu. Teologi Al-Ma’un bukanlah dogma yang mandek di atas mimbar. Ia adalah fikih sosial yang mewajibkan setiap Muslim menerjemahkan keimanannya menjadi tindakan nyata untuk menolong mereka yang tertindas, miskin, dan telantar, serta kekurangan gizi. Dalam konteks modern, musuh nyata yang sedang dihadapi adalah stunting, kemiskinan ekstrem, dan gizi buruk yang mengancam masa depan bangsa.
Ketika SPPGM didirikan, Muhammadiyah tidak sekadar membuat dapur umum temporer demi menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik pemerintah. Lebih dari itu, SPPGM dirancang sebagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) permanen.
Di sinilah letak perbedaan fundamentalnya. Ketika birokrasi melihat program gizi sebagai ladang proyek dan serapan anggaran yang rawan dikorupsi, Muhammadiyah melihat SPPGM sebagai rumah ibadah sosial tempat pelayanan kemanusiaan ditunaikan dengan penuh khidmat.
Bagi Muhammadiyah, memberi makan anak miskin dan menjamin asupan gizi pelajar bukanlah komoditas politik atau instrumen pencitraan organisasi. Ini adalah perwujudan iman yang paling murni, sebuah perintah suci dari Al Qur’an Surah Al-Ma’un untuk memastikan tidak ada dusta di antara kita.
Kemandirian dan Pilar Gerakan SPPGM
SPPGM Muhammadiyah terlihat nyata pada empat pilar utama yang melandasi gerakan pemenuhan gizi ini:
- Gerakan Mandiri: BPPGM dan jaringan SPPGM-nya menyatakan kesiapan untuk tetap beroperasi secara mandiri. Keberlanjutan pasokan gizi bagi anak-anak sekolah tidak boleh tersandera oleh dinamika politik.
- Ratusan Titik Dapur Nyata: Muhammadiyah telah mengoperasikan ratusan dapur SPPGM yang tersebar di puluhan provinsi. Dapur-dapur ini secara konsisten melayani ratusan ribu penerima manfaat, mulai dari santri di pelosok pesantren hingga pelajar di sekolah-sekolah umum.
- Sistem Terintegrasi dan Transparan: SPPGM mengembangkan sistem pengawasan berbasis digital dan riset ilmiah dari hulu ke hilir. Kualitas bahan baku dipantau ketat, kesehatan para juru masak diverifikasi, dan kandungan gizi dari setiap menu dihitung secara presisi.
- Semangat Fikih Sosial: Di atas segalanya, gerakan ini adalah investasi karakter. Melalui makanan yang halal, thoyyib (baik), dan diperoleh dari proses yang bersih, Muhammadiyah sedang mendidik generasi masa depan bangsa agar lebih sehat dan afiat.
Menimbun kekayaan dari anggaran makanan anak-anak sekolah adalah bentuk kejahatan moral tertinggi. Namun, kehadiran SPPGM Muhammadiyah memberikan kita secercah harapan di tengah kegelapan tersebut. Ia menjadi oase yang membuktikan bahwa integritas, ketulusan, dan akuntabilitas belum sepenuhnya punah dari bumi pertiwi.
Melalui kerja senyap ratusan dapur relawannya, SPPGM Muhammadiyah sedang membangun fisik dan mental anak-anak bangsa. Gerakan Al-Ma’un abad ke-21 ini menegaskan kembali khitah sejati Muhammadiyah, bahwa persyarikatan senantiasa hadir sebagai penyuluh di kala gelap, pembawa solusi di kala krisis, dan benteng moral yang menjaga martabat kemanusiaan di Negeri ini. (*)
