Internasionalisasi Muhammadiyah bukan sekadar mendirikan cabang atau membangun sarana fisik di luar negeri, melainkan menyebarkan narasi Islam moderat dan kontribusi pengetahuan di panggung dunia.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ahmad Fuad Fanani, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Fuad membedah empat pilar utama: akar sejarah patriotisme Muhammadiyah, urgensi internasionalisasi, langkah strategis yang dibutuhkan, serta tantangan global yang membayang di depan.
Fuad menegaskan bahwa gerakan internasionalisasi tidak boleh dipertentangkan dengan rasa cinta tanah air. Sejarah mencatat, para tokoh pendiri Muhammadiyah memiliki wawasan global namun tetap berakar kuat pada komitmen kebangsaan.
Ia mencontohkan KH Kahar Muzakir, KH Mas Mansur, hingga sang pendiri, KH Ahmad Dahlan. Meskipun menimba ilmu di Makkah, KH Ahmad Dahlan memilih kembali ke tanah air untuk mentransformasikan pengetahuan tersebut demi kemajuan masyarakat Indonesia.
“Para pendiri Muhammadiyah mengadopsi gagasan ke-Indonesiaan yang utuh dan inklusif, bukan ide kedaerahan yang sempit,” ujar Fuad.
Mengutip QS al-Hujurat: 13 (li ta‘ārafū) dan QS al-Jumu‘ah: 10 (fantashirū fī al-arḍ), Fuad menekankan bahwa perintah agama memanggil umat Islam untuk berjejaring, menyebar, dan berdiplomasi secara aktif di tingkat global.
Di tengah pergeseran tatanan dunia dari kondisi bipolar menuju multipolar, sentimen negatif terhadap Islam (Islamofobia) masih menjadi tantangan. Dalam situasi ini, Muhammadiyah memiliki peluang besar menghadirkan wajah Islam yang inklusif dan moderat.
Menurut Fuad, Muhammadiyah telah dibekali modal sosial dan kelembagaan (hardware) yang kuat. Hal ini terbukti dari keberadaan Universitas Muhammadiyah Malaysia, Muhammadiyah Australian College di Melbourne, hingga aksi akuisisi gereja di Spanyol oleh PWM Jawa Timur.
Namun, keberadaan sarana fisik tersebut dinilai belum cukup. “Organisasi ini memerlukan software berupa gagasan, riset berkualitas, dan produksi pengetahuan yang responsif terhadap diskursus internasional,” jelasnya.
Guna memperkuat pijakan internasionalnya, Fuad menyarankan Muhammadiyah menerapkan strategi active hedging, yaitu membuka diri untuk bekerja sama dengan berbagai pihak tanpa terikat pada kutub kekuatan tertentu.
Dengan jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM), institusi pendidikan, dan amal usaha yang tersebar di pelbagai negara, Muhammadiyah dinilai siap memerankan fungsi strategis:
- Jembatan Dialog: Menjadi penghubung antara dunia Islam dan Barat untuk mengikis kesalahpahaman antarperadaban.
- Inklusivitas Komunitas: Membuka ruang bagi tokoh dan imam Muslim berbagai negara guna mencegah isolasi mazhab.
- Mediator Konflik: Mengambil peran dalam penyelesaian konflik internasional, seperti di Timur Tengah, melalui diplomasi antarwarga (people-to-people relations).
“Muhammadiyah memiliki modal sosial, kelembagaan, dan tradisi keilmuan yang lengkap. Kini saatnya memperkenalkan gagasan dan kontribusi nyata Muhammadiyah untuk perdamaian dunia,” pungkas Fuad. (*/tim)
