Memutus Kelalaian, Bertobat Menjadi Kebutuhan

Memutus Kelalaian, Bertobat Menjadi Kebutuhan
*) Oleh : Furkan Abidin Ali, S.H.I.
Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Manusia adalah makhluk yang tidak pernah luput dari salah dan lupa. Dalam dinamika kehidupan sehari-hari, kita sering kali lengah, tergoda, atau bahkan dengan sengaja melanggar batasan-batasan yang telah ditetapkan Allah Swt.

Namun, kemuliaan seorang hamba sejati sebenarnya tidak diukur dari apakah ia pernah berbuat dosa atau tidak, melainkan dari kesediaannya untuk menyadari kesalahan, bertobat, dan kembali bersimpuh di hadapan Sang Pencipta. Oleh karena itu, bertobat bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan sebuah kebutuhan spiritual mendesak yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Sifat dasar kelalaian ini telah dicontohkan sejak awal penciptaan manusia. Allah Swt mengingatkan kita agar tidak menjadi hamba yang lupa melalui firman-Nya:

وَ لَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

“Dan sungguh, telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak mendapati kemauan yang kuat padanya.” (QS. Thaha: 115)

Ayat ini mengisahkan bagaimana Nabi Adam alaihissalam telah menerima perintah dan larangan langsung dari Allah Swt. Namun, saat berhadapan dengan ujian dan rayuan Iblis, beliau mengalami kelupaan serta kurang teguh dalam menjaga amanah tersebut.

Kisah ini bukan sekadar narasi sejarah masa lalu, melainkan cermin besar bagi kehidupan manusia sepanjang zaman. Kita kerap melupakan perintah dan larangan-Nya hingga akhirnya terperosok ke dalam lubang kesalahan yang sama.

Allah Swt juga menegaskan bahaya kelalaian yang berlarut-larut dalam ayat lainnya:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)

Meskipun kelemahan adalah bagian dari tabiat manusia, seorang mukmin tidak boleh menjadikan hal itu sebagai alasan untuk terus nyaman dalam bermaksiat. Rasulullah saw merangkum realitas ini sekaligus memberikan jalan keluarya melalui sabda beliau:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang banyak bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499)

Keteladanan Nabi Adam as dalam Bertobat

Keteladanan tertinggi setelah melakukan kesalahan ditunjukkan oleh Nabi Adam as dan istrinya. Keduanya tidak mencari pembenaran atas perbuatan mereka. Sebaliknya, mereka langsung mengakui kesalahan dan memohon ampunan Allah Swt. Doa serta istighfar mereka diabadikan dalam Al-Qur’an:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’” (QS. Al-A’raf: 23)

Bagi warga Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya, kisah ini harus menjadi dorongan kuat untuk menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup yang dihayati dan diamalkan, bukan sekadar bahan bacaan atau objek pengetahuan teoritis sebagaimana yang dilakukan oleh para kaum orientalis.

Peringatan dalam Surah Thaha ayat 115 mengajak kita untuk selalu menjaga amanah dan tidak meremehkan larangan Allah. Sementara itu, doa dalam Surah Al-A’raf ayat 23 mengajarkan keberanian untuk introspeksi diri (muhasabah) serta kesungguhan bertobat.

Ketika terjatuh dalam kesalahan, kita tidak boleh terus tenggelam dalam kelalaian, melainkan harus segera bangkit melalui perbaikan diri dan amal saleh.

Nilai-nilai kepemimpinan dan kesadaran diri ini sangat relevan untuk diwujudkan dalam keluarga, masyarakat, persyarikatan, hingga berbangsa. Dalam konteks persyarikatan, setiap amanah kepemimpinan dan keumatan harus dijalankan dengan ikhlas, jujur, dan bertanggung jawab. Jika terjadi kekeliruan atau kekurangan, jangan pernah menutupinya hanya demi menjaga citra semata. Keberanian melakukan evaluasi, memperbaiki kelemahan, dan mengutamakan kemaslahatan umat adalah wujud nyata dari semangat bertobat.

Pada akhirnya, semangat berkemajuan tidak hanya diukur dari megahnya bangunan fisik, majunya pendidikan, pelayanan sosial, atau pesatnya perkembangan amal usaha. Kemajuan yang hakiki harus ditopang oleh ketakwaan, integritas, dan akhlak mulia.

Semoga Allah Swt menjadikan kita hamba-hamba yang tidak meremehkan peringatan-Nya, tidak sombong saat berbuat salah, dan tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search