Jangan Sampai Masjid Ramai, tetapi Kejujuran Semakin Langka

Jangan Sampai Masjid Ramai, tetapi Kejujuran Semakin Langka
*) Oleh : Helmi Rohmanto, M.Pd
Kamad MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangai Laren Lamogan.
www.majelistabligh.id -

Ada sebuah ironi yang patut kita renungkan dalam kehidupan beragama hari ini. Masjid semakin ramai, kajian keislaman semakin mudah diakses, ceramah agama tersebar luas di media sosial, dan simbol-simbol religius semakin mudah kita jumpai. Namun, di tengah semarak kehidupan keagamaan itu, mengapa kejujuran, kepedulian, amanah, dan keadilan justru masih menjadi persoalan yang belum selesai?

Pertanyaan ini bukan untuk merendahkan orang-orang yang rajin beribadah. Bukan pula untuk mempertentangkan kesalehan ritual dengan kehidupan sosial. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk mengembalikan agama pada tujuan utamanya: membentuk manusia yang beriman sekaligus berakhlak mulia.

Sebab, agama tidak cukup hanya terlihat dari seberapa sering seseorang datang ke masjid, seberapa fasih lisannya melafalkan ayat-ayat suci, atau seberapa banyak unggahan bernuansa Islami di media sosial. Agama seharusnya tercermin dalam sikap, keputusan, dan cara seseorang memperlakukan sesamanya.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’un ayat 4–7:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَ ۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

Artinya: “Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria, dan enggan memberikan bantuan.”

Ayat ini memberikan peringatan keras bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada gerakan dan rutinitas. Ada tanggung jawab moral yang harus lahir dari setiap ibadah. Salat semestinya membentuk pribadi yang menjauhi perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ankabut ayat 45.

Lalu, mengapa masih ada orang yang rajin beribadah, tetapi mudah berbohong? Mengapa ada yang pandai berbicara tentang agama, tetapi sulit menepati janji? Mengapa ada yang fasih mengingatkan orang lain tentang dosa, tetapi tidak pernah serius mengevaluasi kesalahan dirinya sendiri?

Inilah persoalan yang perlu kita jawab bersama. Jangan sampai agama hanya menjadi identitas, bukan pedoman hidup. Jangan sampai kesalehan hanya menjadi penampilan, sementara akhlak justru kehilangan tempat.

Kesalehan Tidak Berhenti di Atas Sajadah

Salah satu kesalahpahaman dalam kehidupan beragama adalah menganggap bahwa kesalehan cukup diukur dari hubungan manusia dengan Allah. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).

Orang yang benar-benar memahami agamanya tidak hanya menjaga salat, tetapi juga menjaga lisannya. Tidak hanya rajin berzikir, tetapi juga menjauhi kebohongan. Tidak hanya gemar bersedekah di hadapan orang banyak, tetapi juga memiliki kepedulian ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Kejujuran, misalnya, bukan perkara kecil. Ia adalah fondasi kepercayaan dalam kehidupan. Keluarga akan rapuh tanpa kejujuran. Lembaga pendidikan kehilangan wibawa tanpa integritas. Pemerintahan kehilangan kepercayaan ketika amanah dipermainkan. Bahkan, hubungan antartetangga pun dapat rusak hanya karena kebiasaan berdusta dan saling mencurigai.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad).

Hadis ini menegaskan bahwa akhlak merupakan bagian mendasar dari misi kenabian. Dengan demikian, keberhasilan seseorang dalam memahami agama semestinya terlihat dari semakin baiknya perilaku, bukan sekadar bertambahnya pengetahuan atau kuatnya simbol keagamaan.

Agama di Tengah Budaya Pencitraan

Kehidupan modern menghadirkan tantangan baru. Media sosial memungkinkan seseorang menampilkan sisi religiusnya kepada ribuan orang. Ayat Al-Qur’an dibagikan, nasihat agama dituliskan, kegiatan ibadah didokumentasikan. Semua itu tentu tidak salah selama diniatkan dengan baik.

Namun, kita perlu berhati-hati ketika agama mulai digunakan sebagai alat pencitraan. Seseorang bisa terlihat begitu religius di ruang digital, tetapi perilakunya di dunia nyata justru bertolak belakang. Nasihat tentang kejujuran mudah dibagikan, tetapi praktiknya belum tentu dijalankan. Seruan tentang kepedulian begitu lantang, tetapi penderitaan orang di sekitarnya sering diabaikan.

Jangan sampai kita lebih sibuk membangun citra sebagai orang baik daripada benar-benar berusaha menjadi orang baik.

Di sinilah pentingnya muhasabah atau introspeksi diri. Sebelum sibuk menilai kesalehan orang lain, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kehadiran kita sudah membawa manfaat? Apakah ucapan kita dapat dipercaya? Apakah orang lain merasa aman dari keburukan tangan dan lisan kita?

Menghidupkan Kembali Makna Kesalehan

Masjid yang ramai tentu merupakan kabar baik. Semakin banyak orang datang untuk beribadah, semakin besar pula harapan tumbuhnya masyarakat yang religius. Namun, kemakmuran masjid seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah jamaah yang memenuhi saf, tetapi juga dari nilai-nilai kebaikan yang dibawa jamaah ketika kembali ke tengah masyarakat.

Orang yang pulang dari masjid semestinya membawa semangat kejujuran ke tempat kerja, membawa kesabaran ke dalam keluarga, membawa kepedulian kepada tetangga, serta membawa tanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Begitu pula lembaga pendidikan, keluarga, dan lingkungan masyarakat harus menjadi ruang pembentukan karakter. Pendidikan agama tidak boleh berhenti pada kemampuan menghafal dalil, tetapi harus mampu menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi juga berani mempraktikkannya. Generasi yang tidak hanya tahu mana yang halal dan haram, tetapi memiliki keberanian untuk menolak kebohongan, kecurangan, dan ketidakadilan.

Pada akhirnya, ukuran keberagamaan seseorang bukanlah kewenangan kita untuk menghakimi. Hanya Allah yang mengetahui kadar keimanan dan keikhlasan setiap hamba. Namun, perilaku dan dampak sosial dari keberagamaan patut terus kita evaluasi bersama.

Jangan sampai masjid semakin ramai, tetapi kejujuran semakin langka. Jangan sampai ceramah agama semakin banyak, tetapi kepedulian semakin sedikit. Jangan sampai kita semakin pandai mengingatkan orang lain tentang surga, tetapi lupa memperbaiki akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, agama bukan sekadar sesuatu yang kita ucapkan, bukan pula sekadar sesuatu yang kita tampilkan. Agama adalah nilai yang harus hidup dalam setiap tindakan.

Masjid seharusnya melahirkan manusia yang lebih jujur, bukan sekadar menambah panjang barisan orang yang berdiri dalam salat. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search