Menteri Agama Nasaruddin Umar secara resmi membuka pameran foto bertajuk ‘Labbayk: Here I Am’ di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Jakarta, Selasa (19/5/2026). Menag menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif mitranya dalam menggelar pameran yang merekam momen sakral tersebut.
“Pameran ini bukan sekadar ruang artistik untuk menampilkan karya fotografi. Lebih dari itu, ini adalah jembatan budaya dan kemanusiaan yang memperlihatkan wajah spiritual Islam yang damai, reflektif, dan penuh makna,” ujar Nasaruddin dalam sambutannya.
Pameran ini terasa sangat relevan karena digelar tepat menjelang datangnya musim haji, sebuah momentum spiritual yang paling dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia.
“Saat ini, jutaan manusia dari berbagai bangsa, warna kulit, bahasa, dan latar belakang budaya sedang bersiap memenuhi panggilan suci untuk menunaikan ibadah haji di Tanah Suci, Makkah al-Mukarramah,” tuturnya.
Menag juga menyoroti dimensi sejarah panjang ibadah haji sebagai salah satu ritual keagamaan tertua yang diwariskan sejak Nabi Ibrahim AS. Dari kisah Nabi Ibrahim, umat manusia belajar bahwa iman sejati selalu melahirkan pengabdian, pengorbanan, dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.
Di tengah dunia yang masih diliputi konflik, ketegangan identitas, serta meningkatnya prasangka antarbangsa dan antarumat beragama, Menag menilai pesan universal haji menjadi sangat krusial. Haji menegaskan bahwa pada hakikatnya semua manusia adalah setara.
Oleh karena itu, tidak boleh ada pertumpahan darah, tindakan saling menzalimi, ataupun upaya merendahkan martabat sesama. Nilai-nilai kemanusiaan universal inilah yang dahulu ditegaskan oleh Rasulullah Muhammad saw dalam Khutbah Wada’ pada tahun ke-10 Hijriah (632 M).
“Saat berihram dengan pakaian sederhana berwarna putih, semua simbol status sosial dilepaskan. Tidak ada lagi perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat dan rakyat biasa, kulit hitam atau putih, bangsa besar maupun kecil,” jelas Menag.
Seni Menjembatani Diplomasi
Melalui foto dan kisah personal para Muslim Belanda yang menunaikan umrah dan haji, pameran ‘Labbayk’ ini mengajak publik melihat pengalaman spiritual Islam dari sisi yang lebih dekat dan humanis. Menag memandang seni dan budaya sering kali mampu menjembatani hal-hal yang tidak dapat dijelaskan oleh bahasa politik maupun diplomasi formal.
“Semoga pameran ini dapat memperkuat dialog budaya, mempererat saling pengertian, serta menumbuhkan rasa hormat di tengah masyarakat global yang semakin majemuk. Di saat yang sama, kegiatan ini diharapkan memperkokoh hubungan persahabatan dan kerja sama antara Indonesia dan Belanda yang telah terjalin baik selama ini,” pungkasnya.
Agenda pembukaan ini turut dihadiri langsung oleh Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, H.E. Marc Gerritsen, beserta jajaran diplomatik dan para tamu undangan. (*/tim)
