Menapaki Andong di Hari Selesa: Ketika Gunung Mengajarkan Arti Kehadiran

Menapaki Andong di Hari Selesa: Ketika Gunung Mengajarkan Arti Kehadiran
www.majelistabligh.id -

*)Oleh:Nashrul Mu’minin
Content writer Yogyakarta

Pukul 06.15, langit masih menggantungkan warna jingga pucat ketika aku menginjakkan kaki di jalur Pendakian Gunung Andong via Pendem. Tanggal 15 Juli 2025 ini kupilih sebagai hari “selesa”—istilah lokal untuk jeda di sela liburan kampus dan kerja—di mana satu-satunya tugas adalah bernapas dalam-dalam dan menikmati setiap langkah.

Gunung Andong, dengan ketinggian 1.726 mdpl, bukanlah yang tertinggi, tapi justru di situlah keajaibannya: ia tidak memaksa kita untuk berlomba menaklukkan puncak, melainkan mengajak berdialog dengan alam dalam ritme yang pelan dan manusiawi.

Perjalanan awal melewati hamparan kebun sayur milik warga menyadarkanku bahwa mendaki adalah proses memungut cerita. Petani-petani di lereng Andong sudah mulai beraktivitas, menyapa dengan senyum yang tidak terburu-buru. “Monggo pinarak,” kata seorang nenek sambil menunjuk jalan setapak. Kalimat sederhana itu seperti metafora: gunung ini bukan milik pendaki, tapi kita yang dipinjamkan jalannya.

Semak belukar mulai menipis saat matahari naik, menggantikannya dengan pemandangan tegalan hijau yang tersusun rapi seperti undakan raksasa. Di sini, lereng Andong bukan hanya tanah, tapi kanvas tempat manusia dan alam berkolaborasi mencipta keindahan.

Puncak Andong menyambutku tepat pukul 10.30 dengan panorama yang memaksa diam. Kabut tipis menyapu gundukan bukit-bukit kecil di kejauhan, sementara sinar matahari menerobos dedaunan pinus seolah sedang bermain petak umpet. Aku duduk di antara bebatuan vulkanik yang hangat, memandang tumpukan batu “Sun Cereals” —sebutan pendaki untuk formasi batuan unik di puncak yang konon dulu menjadi tempat ritual.

Ada ironi yang mengharukan: di era di mana manusia sibuk membangun menara pencakar langit, gunung justru mengingatkan kita tentang betapa megahnya kesederhanaan.

Turun via jalur yang sama pada pukul 12.15, tubuh lelah tapi mata tetap lapar akan detail. Kaki ini melambat saat melewati sumber mata air kecil di dekat Pos 2. Airnya jernih, mengalir pelan di antara akar-akar pohon, seperti ingin bercerita tentang kesabaran.

Seorang pendaki tua yang kususul di tengah jalan berbagi kisah: “Andong itu gunung yang rendah hati. Ia tidak perlu tinggi untuk mengajarkan arti syukur.” Kalimat itu menggema dalam benakku ketika jam menunjukkan pukul 14.43, saat kaki terakhir meninggalkan gerbang pendakian.

Perjalanan pulang ke Jogja kuhiasi dengan berhenti di warung kopi lereng Andong. Seduhan kopi lokal yang pahit tapi hangat menjadi penutup sempurna. Hari ini, Andong bukan sekadar destinasi pendakian, melainkan guru yang mengajariku tentang “kehadiran”.

Di tengah dunia yang memuja produktivitas, ia mengingatkan bahwa terkadang, berdiam diri di antara pepohonan sambil mendengar desau angin adalah pencapaian tertinggi. Liburan bukanlah pelarian, tapi kesadaran bahwa kita adalah bagian dari alam yang selalu punya cerita—jika saja mau memperlambat langkah dan membuka mata. (*)

Tinggalkan Balasan

Search