Menatap Gaza dari Lensa: Sisi Kemanusiaan Palestina Melalui Karya Foto

Pameran foto tentang sisi kemanusiaan rakyat Pelestina. (ist)
www.majelistabligh.id -

Deretan foto yang memenuhi ruang pamer lantai dasar Gedung Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bukan sekadar karya visual biasa. Setiap bingkainya menghadirkan potongan realitas tentang keteguhan warga Palestina yang bertahan di tengah perang, blokade, dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

Melalui pameran foto bertajuk “Palestine Through the Lens” yang digelar mulai awal ahad ini, UMY menghadirkan karya dari dua jurnalis internasional: Mohammed Asad (fotografer Palestina) dan Zoe Reynold (jurnalis Australia). Pameran ini menjadi bagian dari ikhtiar akademis UMY untuk membangun kesadaran publik sekaligus memperkuat solidaritas kemanusiaan global.

Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMY, Filosa Gita Sukmono, menjelaskan bahwa fotografi memiliki kekuatan unik dalam menghadirkan kenyataan. Sesuatu yang kerap sulit diartikulasikan lewat kata-kata, sering kali tersampaikan lebih kuat melalui gambar yang berbicara langsung kepada nurani.

“Melalui foto-foto ini, kita diajak melihat langsung berbagai peristiwa di Palestina. Harapannya, sensitivitas kemanusiaan masyarakat terus terbangun sehingga isu Palestina tidak pernah tenggelam dari perhatian dunia,” ujar Filosa, yang juga menjabat sebagai Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah.

Pertaruhan Nyawa dan Sensor Digital

Bagi Mohammed Asad, setiap foto yang terpajang hanyalah sebagian kecil dari tragedi kemanusiaan yang jauh lebih besar. Selama lebih dari dua tahun terakhir, para jurnalis di Gaza harus bertaruh nyawa di bawah ancaman serangan udara, blokade bahan bakar, hingga pemutusan akses internet. Bahkan, lebih dari 263 jurnalis dilaporkan gugur saat bertugas.

“Kami berjalan kaki sangat jauh hanya dengan membawa ponsel demi mendokumentasikan kenyataan di sekitar kami. Tolong terus dukung kami agar Palestina tidak dilupakan,” tutur Asad emosional.

Di sisi lain, Zoe Reynold menyoroti tantangan baru di era digital, khususnya terkait pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pengolahan dokumentasi konflik. Ia menemukan adanya bias sistemik di mana AI cenderung enggan atau gagal menghasilkan visual yang menggambarkan kekerasan terhadap warga Palestina.

“Ini sebuah ironi besar ketika teknologi yang seharusnya netral justru tidak mampu merepresentasikan kenyataan di lapangan secara objektif,” ungkap Zoe. Ia menegaskan bahwa teknologi tetap membutuhkan pengawasan manusia agar tidak mengaburkan fakta sejarah.

Bagi Muhammadiyah, pameran “Palestine Through the Lens” menjadi penegas pentingnya merawat ingatan kolektif dunia. Di balik angka korban dan laporan statistik, ada kehidupan, keluarga, dan harapan yang harus terus disuarakan demi keadilan rakyat Palestina. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search