Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa tujuh tahun pertama kehidupan merupakan masa paling krusial dalam perkembangan anak. Oleh karena itu, ia mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar tidak membebani anak usia dini dengan tuntutan akademik yang berlebihan.
“Hampir semua teori pendidikan menyebutkan bahwa tujuh tahun pertama kehidupan merupakan masa yang paling menentukan. Pendidikan anak usia dini adalah fondasi bagi seluruh proses pendidikan selanjutnya,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurut Menteri, dunia pendidikan anak usia dini sejatinya adalah ruang untuk bermain, bersosialisasi, membangun rasa percaya diri, melatih motorik, serta menanamkan karakter dan kebiasaan baik. Guna mendukung penguatan ini, pemerintah telah memasukkan PAUD ke dalam program Wajib Belajar 13 Tahun, memperluas dukungan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk peserta didik TK dari keluarga sasaran, serta berkomitmen meningkatkan kompetensi para guru PAUD.
Asesmen Awal Lewat Bermain
Semangat ramah anak tersebut diwujudkan secara nyata dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di TK ‘Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Kudus. Alih-alih dihadapkan pada tes membaca atau berhitung yang menegangkan, anak-anak yang mendaftar justru disambut dengan ruang orientasi yang penuh tawa. Mereka diajak bermain, berinteraksi, dan mengenal lingkungan sekolah baru mereka.
Bagi pihak sekolah, proses ini menjadi metode terbaik untuk mengenali karakter setiap calon murid. Sementara bagi orang tua, pendekatan persuasif ini memberikan ketenangan tersendiri saat mengantarkan buah hati mereka memasuki dunia persekolahan.
Eni Uswati, salah satu orang tua murid, mengapresiasi proses pendaftaran yang sederhana namun sarat makna ini. Selain syarat administrasi yang mudah—cukup akta kelahiran, Kartu Keluarga, dan pas foto—proses pengenalan anak dikemas dengan sangat humanis.
Pengalaman positif serupa disampaikan oleh Fathur Rohman. Setelah melihat perkembangan putranya selama di Kelompok Bermain (KB) di sekolah yang sama, ia mantap melanjutkan pendidikan sang anak ke jenjang TK di sekolah tersebut.
“Kami merasa prosesnya sangat baik. Orang tua diberikan penjelasan yang gamblang, sementara anak-anak dikenalkan pada lingkungan sekolah lewat aktivitas yang menyenangkan. Pendidikan usia dini memang bukan tempat untuk mengejar kemampuan akademik semata,” kata Fathur.
Kepala TK ‘Aisyiyah Terpadu Birrul Walidain, Ami, menjelaskan bahwa SPMB bukan sekadar momentum administratif, melainkan ruang awal untuk membangun kemitraan bersama orang tua. Pihak sekolah membuka informasi pendaftaran secara transparan agar visi, kurikulum, dan pola kolaborasi antara rumah dan sekolah dapat berjalan selaras.
“TK bukan tempat berlomba agar anak cepat bisa membaca, melainkan tempat menumbuhkan fondasi akhlak, karakter, dan kesiapan belajar mereka,” tegas Ami. (*/tim)
