Aku percaya, setiap manusia memiliki jalan perjuangannya masing-masing. Ada yang menemukan cita-cita sejak kecil, ada pula yang harus melewati perjalanan panjang sebelum memahami apa yang sebenarnya ingin diperjuangkan. Bagiku, kehidupan bukan sekadar tentang menjadi seseorang yang berhasil di mata orang lain, melainkan tentang menemukan tujuan yang membuat setiap langkah terasa bermakna. Perjalanan itu membawaku pada sebuah kecintaan yang perlahan tumbuh menjadi bagian dari identitasku: menulis.
Namaku Nashrul Mu’minin. Aku lahir pada 21 Februari 2003 di Desa Takerharjo, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Aku tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjadi bagian penting dari perjalanan kehidupanku. Ayahku, Kusnadi, dan ibuku, Umi Ubudiyah, adalah sosok yang selalu mengingatkanku bahwa kehidupan membutuhkan kesabaran, kerja keras, dan keteguhan hati. Dari keluarga, aku belajar bahwa perjuangan tidak selalu terlihat melalui pencapaian besar. Terkadang, perjuangan justru hadir dalam kesederhanaan, ketulusan, dan kemampuan bertahan ketika keadaan tidak mudah.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan hidup yang dimulai dari sebuah desa di Lamongan akan membawaku pada dunia pendidikan, literasi, jurnalistik, dan kepenulisan. Namun, hari ini aku memahami bahwa setiap pengalaman memiliki peran dalam membentuk siapa diriku. Ada perjalanan yang memberikan pengetahuan, ada pengalaman yang mengajarkan kedewasaan, dan ada pula keadaan yang membuatku semakin mengenal arti sebuah perjuangan.
## Dari Desa Takerharjo, Aku Belajar Mengenal Kehidupan
Perjalanan pendidikanku dimulai dari TK Aisyiyah Bustanul Athfal pada 2006–2009. Setelah itu, aku melanjutkan pendidikan di MI Muhammadiyah 03 Takerharjo pada 2009–2015, MTs Muhammadiyah 15 Lamongan pada 2015–2018, dan MA Muhammadiyah 09 Lamongan pada 2018–2021.
Setiap jenjang pendidikan memberikan pengalaman yang berbeda. Masa kecil mengajarkanku tentang keberanian mengenal dunia, sementara masa remaja memperkenalkanku pada berbagai pertanyaan tentang masa depan. Seiring bertambahnya usia, aku mulai memahami bahwa pendidikan bukan sekadar memperoleh nilai, menyelesaikan tugas, atau mendapatkan ijazah. Pendidikan merupakan proses panjang untuk membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, dan menemukan kemampuan yang mungkin sebelumnya tidak pernah kusadari.
Di tengah perjalanan tersebut, aku mulai menyadari bahwa membaca dan menulis memiliki daya tarik tersendiri. Ada sesuatu yang menyenangkan ketika sebuah gagasan dapat dituangkan menjadi kalimat, ketika pengalaman dapat disusun menjadi cerita, dan ketika kata-kata mampu menyampaikan pesan kepada orang lain.
Bagiku, tulisan bukan hanya rangkaian huruf. Tulisan adalah ruang untuk menyampaikan pemikiran, mengabadikan pengalaman, dan menyuarakan sesuatu yang mungkin tidak dapat disampaikan secara langsung. Dari situlah ketertarikanku terhadap dunia literasi semakin berkembang.
Namun, menemukan minat tidak selalu berarti langsung memahami bagaimana mengembangkannya. Aku pun masih harus belajar, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan mencari pengalaman. Tidak semua tulisan terasa sempurna. Tidak semua gagasan mudah disampaikan. Ada kalanya aku harus mengulang kalimat, memperbaiki susunan paragraf, dan memikirkan kembali pesan yang ingin disampaikan.
Aku belajar bahwa kemampuan tidak tumbuh hanya melalui keinginan. Kemampuan membutuhkan latihan, kedisiplinan, dan kesediaan untuk menerima kekurangan.
