Menulis Sebagai Ladang Dakwah dan Perjalanan Menjadi Diri Sendiri

Menulis Sebagai Ladang Dakwah dan Perjalanan Menjadi Diri Sendiri
*) Oleh : Nashrul Mu’minin S.Pd,. C.PW,. C.IJ
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
www.majelistabligh.id -

Teruslah Bertumbuh, Meskipun Belum Menemukan Semua Jawaban

Perjalanan hidup mengajarkanku bahwa keberhasilan tidak selalu datang melalui jalan yang mudah. Ada proses panjang yang harus dijalani, ada kesalahan yang perlu diperbaiki, dan ada ketidakpastian yang harus diterima. Namun, aku percaya bahwa setiap pengalaman memiliki kesempatan untuk menjadi pelajaran.

Kesadaran diri membantuku memahami bahwa kehidupan tidak harus selalu berjalan sesuai dengan standar orang lain. Aku berhak memiliki perjalanan sendiri, menentukan prioritas, dan mengembangkan potensi sesuai dengan kemampuan serta nilai yang kupercaya.

Aku ingin menjadikan menulis sebagai bagian dari perjuangan hidupku. Bukan semata-mata untuk memperoleh pengakuan, tetapi untuk menyampaikan kebaikan, menginspirasi pembaca, dan menghadirkan manfaat melalui kata-kata. Aku ingin terus membaca Al-Qur’an, belajar memahami kehidupan, dan menjaga agar setiap langkah tetap berada dalam nilai-nilai yang diyakini.

Kepada siapa pun yang sedang menghadapi krisis seperempat kehidupan, jangan terlalu keras menghakimi diri sendiri. Jika hari ini belum mencapai sesuatu yang diharapkan, bukan berarti seluruh perjuanganmu sia-sia. Jika hari ini masih merasa bingung, bukan berarti kamu tidak memiliki masa depan. Terkadang, keberanian terbesar bukanlah berlari menuju tujuan, melainkan tetap melangkah ketika jalan belum sepenuhnya terlihat.

Dan kepada diriku sendiri, Nashrul Mu’minin, teruslah menulis meskipun tidak semua orang membaca. Teruslah belajar meskipun belum menjadi yang terbaik. Teruslah membaca Al-Qur’an meskipun dunia menawarkan banyak kesibukan. Jangan pernah kehilangan niat untuk menjadikan ilmu, tulisan, dan kehidupan sebagai jalan menghadirkan manfaat.

*Ingatlah, kita tidak harus menjadi manusia yang sempurna untuk memulai sesuatu yang bermakna. Kita hanya perlu menjadi manusia yang bersedia belajar, memperbaiki diri, dan terus berusaha.*

Sebagaimana ungkapan motivasi dalam bahasa Arab:

*لَا تَيْأَسْ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ، وَلَا تَتَوَقَّفْ عَنْ السَّعْيِ، فَإِنَّ لِكُلِّ مُجْتَهِدٍ نَصِيبًا مِنَ الْخَيْرِ.*

Lā tay’as min raḥmatillāh, wa lā tatawaqqaf ‘an as-sa‘yi, fa inna likulli mujtahidin naṣīban minal-khair.

“Jangan berputus asa dari rahmat Allah dan jangan berhenti berusaha, karena setiap orang yang bersungguh-sungguh memiliki bagian dari kebaikan.”

Aku percaya, selama masih ada kesempatan untuk belajar, masih ada ruang untuk bertumbuh. Selama masih ada waktu untuk memperbaiki diri, perjuangan belum selesai. Dan selama tulisan masih mampu menyampaikan kebaikan, aku ingin terus menulis sebagai bagian dari perjalanan dakwah dan pengabdian.

*Salam literasi, dari seorang anak Lamongan yang terus belajar menemukan makna kehidupan melalui pendidikan, Al-Qur’an, dan tulisan.

 

Tinggalkan Balasan

Search