Menulis Sebagai Ladang Dakwah dan Perjalanan Menjadi Diri Sendiri

Menulis Sebagai Ladang Dakwah dan Perjalanan Menjadi Diri Sendiri
*) Oleh : Nashrul Mu’minin S.Pd,. C.PW,. C.IJ
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
www.majelistabligh.id -

## Al-Qur’an sebagai Pedoman dalam Perjalanan

Di tengah kecintaanku terhadap dunia literasi, aku tidak ingin melupakan satu hal yang menjadi pedoman utama dalam kehidupanku: Al-Qur’an.

Bagiku, membaca Al-Qur’an bukan sekadar rutinitas, melainkan kebutuhan spiritual yang harus terus dijaga. Aku menyadari bahwa pengetahuan, kemampuan menulis, dan pencapaian akademik tidak akan memiliki makna yang utuh apabila aku kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.

Al-Qur’an menjadi pengingat agar aku tidak hanya mengejar keberhasilan duniawi, tetapi juga memperhatikan nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab. Ketika menghadapi kebingungan, aku ingin kembali mengingat bahwa kehidupan memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar pencapaian pribadi.

Aku ingin menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Dalam dunia kepenulisan, aku ingin menjaga agar kata-kata yang kutulis tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan. Dalam kehidupan akademik, aku ingin ilmu yang diperoleh menjadi jalan untuk memperluas manfaat. Dalam kehidupan sosial, aku ingin tetap menghargai manusia dan menjaga akhlak.

Aku memahami bahwa perjalanan menjadi manusia yang baik tidak pernah selesai. Membaca Al-Qur’an harus disertai usaha untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Aku juga menyadari bahwa menjadi penulis yang baik tidak berarti harus merasa paling benar. Justru semakin banyak membaca dan belajar, semakin aku memahami betapa luasnya pengetahuan dan betapa terbatasnya kemampuan manusia.

Karena itu, aku ingin terus belajar, memperbaiki diri, dan menjaga hubungan dengan Allah Swt. Aku ingin menjadikan ilmu sebagai jalan mendekatkan diri kepada-Nya, bukan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

## Perjalanan Pendidikan dan Harapan Masa Depan

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di Lamongan, aku melanjutkan perjalanan akademik di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta pada 2024–2026 dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam. Perjalanan tersebut menjadi pengalaman penting dalam membentuk pemikiran dan memperluas wawasan.

Yogyakarta memberiku ruang untuk mengenal lingkungan baru, bertemu dengan berbagai pemikiran, dan mengembangkan kemampuan yang sebelumnya belum sepenuhnya kusadari. Di kota ini, aku belajar bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pengalaman organisasi, kegiatan literasi, interaksi sosial, dan perjalanan pribadi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, aku melanjutkan studi Pendidikan Agama Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 2026. Bagiku, melanjutkan pendidikan bukan sekadar mengejar gelar akademik. Aku ingin memperluas pengetahuan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan memperkuat kontribusi dalam bidang pendidikan serta literasi.

Aku memiliki harapan untuk berkembang sebagai pendidik, penulis, dan pegiat literasi. Ketiga bidang tersebut memiliki hubungan yang erat. Pendidikan memberikan pengetahuan, kepenulisan menyampaikan gagasan, sedangkan literasi membantu masyarakat memahami informasi dan membangun kesadaran.

Aku ingin menjadi seseorang yang mampu menghubungkan ketiganya. Aku ingin menulis tentang pendidikan yang memanusiakan manusia, menyampaikan nilai-nilai keislaman secara bijaksana, dan menghadirkan karya yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Namun, aku juga memahami bahwa masa depan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada kemungkinan menghadapi kegagalan, perubahan rencana, dan tantangan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Oleh karena itu, aku tidak ingin menggantungkan seluruh kebahagiaan pada satu pencapaian.

Aku ingin belajar menikmati proses tanpa kehilangan arah. Aku ingin tetap berusaha meskipun hasilnya belum sesuai harapan. Aku ingin memahami bahwa keberhasilan bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih, tetapi juga tentang siapa diriku setelah melewati perjalanan tersebut.

## Menjadikan Krisis sebagai Ruang untuk Bertumbuh

Perjalanan menemukan diri tidak selalu berlangsung dengan mudah. Ada masa ketika seseorang merasa yakin terhadap pilihannya, tetapi ada pula masa ketika keraguan kembali muncul. Dalam keadaan tersebut, aku belajar bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab hari ini.

Terkadang, manusia membutuhkan waktu untuk memahami dirinya sendiri. Tidak apa-apa jika belum mengetahui seluruh tujuan kehidupan. Tidak apa-apa jika harus mengubah rencana. Tidak apa-apa jika membutuhkan bantuan orang lain.

Yang terpenting adalah tidak berhenti mengenali diri dan tidak kehilangan keberanian untuk melangkah.

Aku ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa perjalanan hidup bukan perlombaan yang harus dimenangkan secepat mungkin. Setiap orang memiliki tanggung jawab, kesempatan, dan keadaan yang berbeda. Membandingkan seluruh perjalanan hidupku dengan pencapaian orang lain hanya akan membuatku lupa menghargai proses yang sedang dijalani.

Aku ingin terus menulis, membaca, belajar, dan memperbaiki diri. Aku ingin menjaga niat agar setiap karya menjadi bagian dari perjuangan menghadirkan kebaikan. Aku ingin menjadikan pengalaman hidup sebagai bahan refleksi, bukan sebagai alasan untuk berhenti.

Pada akhirnya, krisis bukan selalu pertanda bahwa kehidupan telah kehilangan arah. Terkadang, krisis merupakan kesempatan untuk meninjau kembali arah yang selama ini ditempuh. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak agar dapat melanjutkan perjalanan dengan lebih bijaksana.

 

Tinggalkan Balasan

Search