Menunggu Orkestrasi Baru Hasil Reshuffle Kabinet Merah Putih

Pejabat negara/pemerintah dilantik dan diambil sumpahnya di bawah kitab suci. (setpres)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Presiden Prabowo Subianto, kembali melakukan reshuffle kabinet, Senin (27/4/2026). Reshuffle kabinet jilid V ini bukanlah sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah orkestrasi baru dan mencoba mencari nada harmoni di tengah riuh rendah kritik dan harapan rakyat yang membumbung tinggi.

Sebuah hak prerogatif, memang, bagi seorang Presiden untuk memilih siapa yang layak duduk di barisan “pembantunya”. Namun kekuasaan bukan sekadar tongkat untuk menunjuk, melainkan kuas untuk melukis masa depan. Ketika kursi-kursi bergeser dan wajah-wajah baru bermunculan, publik bertanya-tanya, apakah ini bentuk penyempurnaan kinerja, atau sekadar perjamuan bagi-bagi jabatan?

Dalam perombakan kali ini, terdapat enam nama yang dilantik untuk mengisi posisi-posisi tertentu. Mereka adalah:

  1. Mohammad Jumhur Hidayat: Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.
  2. Hanif Faisol Nurofiq: Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan (bergeser dari Menteri LH).
  3. Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman: Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
  4. Muhammad Qodari: Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom).
  5. Hasan Nasbi: Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.
  6. Abdul Kadir Karding: Kepala Badan Karantina Indonesia.

Pelantikan ini dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 51/P Tahun 2026. Nama-nama ini hadir membawa janji perubahan, namun jalan yang mereka tempuh tidaklah sunyi dari keraguan.

Antara Kapabilitas dan “Gagap Data”

Esensi dari sebuah reshuffle adalah manifestasi dari prinsip the right man on the right place. Dalam Islam, prinsip ini dikenal dengan penyerahan amanah kepada ahlinya. Rasulullah saw memperingatkan: “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari).

Namun, realita sering kali lebih melenceng daripada teori. Sepanjang satu setengah tahun terakhir, Kabinet Merah Putih kerap menjadi sasaran empuk kritik parlemen. Data menunjukkan bahwa efektivitas koordinasi antar-kementerian masih menjadi titik lemah.

Beberapa pengamat menilai bahwa reshuffle kali ini belum sepenuhnya menyentuh akar permasalahan. Masih ada kementerian yang dinilai memiliki rapor merah, di mana menterinya dianggap “gagap data”, sebuah istilah puitis namun menyakitkan untuk menggambarkan ketidaksiapan dalam menghadapi kompleksitas masalah bangsa. Bagaimana mungkin sebuah bangsa besar bisa berlari kencang jika awak di salah satu bagian kapalnya tidak paham cara membaca peta, rasi bintang dan angka?

Sebagai warga bangsa yang mencintai tanah air ini, kita memilih untuk tetap berhusnudhon, berprasangka baik. Kita menyaksikan drama reshuffle ini dengan dada yang lapang namun mata yang tetap waspada. Kita ingin percaya bahwa pelantikan Dudung Abdurachman sebagai Kepala Staf Kepresidenan akan memperkuat manajemen staf kepresidenan, atau kehadiran Jumhur Hidayat mampu membawa angin segar bagi perlindungan lingkungan hidup yang kian terancam.

Namun, harapan tidak boleh membutakan logika. Rakyat tidak butuh sekadar pergantian nama di papan jabatan. Rakyat butuh akselerasi. Jangan sampai panggung megah di Istana ini hanya menjadi tempat “bagi-bagi kue” kekuasaan tanpa dibarengi dengan kapabilitas yang mumpuni.

Tinta di atas surat keputusan sudah mengering. Enam pejabat baru telah bersumpah di bawah kitab suci untuk setia kepada bangsa dan negara. Rakyat kini berada di kursi penonton, menunggu apakah orkestrasi ini akan menghasilkan melodi yang indah atau justru nada-nada sumbang yang memekakan telinga.

Kinerja adalah satu-satunya bahasa yang bisa dipahami oleh rakyat kecil. Kita menunggu bukti, bukan sekadar diksi. Sebab pada akhirnya, kejayaan sebuah pemerintahan tidak diukur dari seberapa sering ia merombak kabinetnya, melainkan dari seberapa jauh ia mampu membawa kesejahteraan ke meja-meja makan, atau jaminan mengepulnya asap di dapur-dapur setiap keluarga di pelosok negeri.

Selamat bekerja bagi mereka yang baru dilantik. Ingatlah, sejarah tidak pernah lupa mencatat siapa yang bekerja dengan hati dan siapa yang hanya menumpang nama di atas kursi tinggi. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search