Sekretaris PWM Jatim Biyanto Bedah 9 Etos Unggul Muhammadiyah

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Biyanto.
www.majelistabligh.id -

Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Biyanto, menegaskan pentingnya merawat tradisi unggul persyarikatan. Menurutnya, nilai-nilai fundamental ini merupakan modal utama Muhammadiyah untuk tetap eksis dan memainkan peran strategis di tengah dinamisnya arus dakwah dan perubahan zaman.

Pesan penting tersebut disampaikannya saat mengisi kajian Gerakan Subuh Berjamaah yang digelar secara daring pada Senin (8/6/2026). Dalam kesempatan itu, Biyanto menguraikan sembilan etos budaya unggul Muhammadiyah yang harus terus dijaga dan dikembangkan oleh seluruh kader:

  1. Disiplin Waktu yang Ketat. Disiplin telah menjadi identitas yang melekat kuat pada tubuh Muhammadiyah. Hal ini tebias dalam ketepatan agenda kegiatan, musyawarah organisasi, hingga tata kelola amal usaha. Biyanto menyebut, penghormatan terhadap waktu merupakan implementasi nyata dari Surah Al-Ashr—surat yang dikaji secara mendalam oleh Kiai Ahmad Dahlan bersama para muridnya selama berbulan-bulan.
  2. Struktur yang Fleksibel dan Anti-Kultus. Meski memiliki jenjang kepemimpinan yang rapi, Muhammadiyah tidak kaku dan sangat menghindari kultus individu. Organisasi ini konsisten mengedepankan prinsip kesetaraan dan kerja kolektif.
  3. Semangat Melayani (Khidmat). Sejak awal berdiri, kekuatan utama Muhammadiyah terletak pada kerelaan melayani masyarakat melalui tiga pilar utama: pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
  4. Kepemimpinan Kolektif-Kolegial. Pengambilan keputusan di Muhammadiyah tidak bertumpu pada satu orang. Organisasi ini mengutamakan musyawarah dan keterlibatan banyak pihak demi mencapai mufakat yang objektif.
  5. Kesederhanaan Para Pemimpin. Sikap bersahaja para tokoh Muhammadiyah menjadi teladan yang kuat. Biyanto mencontohkan gaya hidup Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang tetap sederhana meski memimpin organisasi raksasa dengan aset triliunan. “Yang kaya itu organisasinya, bukan pimpinannya,” tegas Biyanto.
  6. Sedikit Bicara, Banyak Bekerja. Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi amal nyata. Tidak terjebak dalam perdebatan wacana, gerakan ini lebih fokus pada aksi sosial konkrit di lapangan.
  7. Kemandirian Ekonomi. Kemandirian finansial menjadi jangkar dakwah persyarikatan. Biyanto menekankan bahwa Muhammadiyah harus terus memperkuat sektor ekonomi agar mampu menopang agenda dakwah dan pelayanan publik secara berdaulat.
  8. Komitmen Pemberdayaan Perempuan. Sikap inklusif ini merupakan warisan berharga dari Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) melalui gerakan Aisyiyah, yang membuktikan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam kemajuan bangsa.
  9. Semangat Diaspora dan Pengembangan SDM. Biyanto mendorong generasi muda Muhammadiyah untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, baik di dalam maupun luar negeri. Setelah lulus, mereka diharapkan kembali untuk mengabdi dan membesarkan persyarikatan.

Diakui Dunia sebagai Organisasi Paling Berhasil

Ketangguhan sistem yang dimiliki Muhammadiyah ini bukan sekadar klaim internal. Biyanto mengutip testimoni dari Indonesianis asal Amerika Serikat, Robert W. Hefner, yang menilai Muhammadiyah sebagai model keberhasilan amal sosial dan keagamaan yang patut menjadi rujukan dunia.

Nada serupa juga pernah disampaikan oleh cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern terbesar dan paling mengesankan dari sisi tata kelola kelembagaan.

Menutup kajiannya, Biyanto mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk tidak terlena, melainkan terus merawat warisan berharga ini.

“Keunggulan Muhammadiyah tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui proses panjang yang melibatkan disiplin, kerja keras, pelayanan, dan semangat berkemajuan. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan estafet tersebut agar Muhammadiyah tetap menjadi kekuatan yang mencerahkan umat dan bangsa,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search