Cuaca “bediding” atau fenomena suhu dingin ekstrem yang belakangan ini dirasakan masyarakat, rupanya tidak hanya membuat tubuh menggigil. Kondisi ini juga membawa ancaman nyata bagi kesehatan, khususnya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Titik Agustiyaningsih, S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa suhu dingin menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran virus dan bakteri, sekaligus melemahkan pertahanan alami tubuh manusia.
Menurut Titik, melonjaknya kasus batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga sesak napas saat cuaca dingin dipengaruhi oleh tiga faktor utama, ketahanan patogen yang meningkat, penurunan imunitas, dan perubahan perilaku masyarakat.
“Angka kejadian ISPA dan influenza cenderung meningkat saat suhu udara menurun. Udara dingin dan kering membuat virus maupun bakteri mampu bertahan lebih lama di luar tubuh, sehingga mempermudah penyebarannya melalui udara,” ujar Titik, Senin (8/6/2026).
Lebih lanjut, Titik memaparkan bahwa saluran pernapasan manusia memiliki mekanisme pertahanan yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Ketika menghirup udara dingin secara mendadak, tubuh akan merespons dengan menyempitkan saluran napas dan meningkatkan produksi lendir.
Sayangnya, kondisi ini justru memperlambat kerja silia (rambut-rambut getar di saluran napas) yang berfungsi menyaring kotoran dan mikroorganisme. Akibatnya, sistem pembersihan alami tubuh menjadi kurang efektif.
Selain itu, penurunan suhu drastis terbukti melemahkan sistem imun. Titik menyebutkan, salah satu pemicunya adalah berkurangnya produksi Extracellular Vesicles (EVs)—komponen pertahanan alami di dalam rongga hidung yang berfungsi menangkap dan menghancurkan virus.
“Saat cuaca dingin, tubuh fokus mempertahankan suhu inti agar tetap stabil. Proses ini memicu penyempitkan pembuluh darah di area hidung, yang dampaknya mengurangi distribusi sel-sel imun ke saluran pernapasan. Di sisi lain, beberapa virus seperti rhinovirus (penyebab flu) justru berkembang biak lebih optimal pada suhu rendah,” imbuhnya.
Agar tidak salah penanganan, Titik mengingatkan masyarakat untuk bisa membedakan antara ISPA dan alergi dingin.
- Alergi Dingin: Memiliki ciri khas berupa bersin berulang, hidung gatal, dan mata berair yang muncul hanya saat terpapar udara dingin, lalu membaik ketika suhu menghangat.
- ISPA (Infeksi): Umumnya ditandai dengan gejala yang menetap dan disertai dengan demam.
Jaket Saja Tidak Cukup
Sebagai langkah antisipasi, Titik menegaskan bahwa sekadar mengenakan pakaian tebal atau jaket belum cukup untuk menangkal penyakit. Masyarakat diimbau untuk memperkuat pertahanan dari dalam tubuh.
Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Menjaga hidrasi tubuh dengan rutin mengonsumsi minuman hangat.
- Memenuhi kebutuhan nutrisi, khususnya Vitamin A, Vitamin D, dan lemak sehat yang mengandung omega-3 untuk mendongkrak sistem imun.
Ia juga mengingatkan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, perokok aktif, penderita sinusitis kronis, serta pekerja yang menghabiskan waktu lama di ruangan ber-AC untuk ekstra waspada.
“Memakai jaket memang penting untuk melindungi tubuh dari luar. Namun, menjaga hidrasi, nutrisi, dan daya tahan tubuh jauh lebih krusial karena benteng utama melawan penyakit sebenarnya berasal dari dalam diri kita sendiri,” pungkasnya. (*/tim)
