Merawat Negeri dengan Kata, Bukan Amarah: Di Mana Batas Amar Makruf?

R. Alpha Amirrachman, M.Phil., Ph.D.
*) Oleh : Alpha Amirrachman, M.Phil., Ph.D.
Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah dan dosen di Fakuktas Pendidikan, Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
www.majelistabligh.id -

Belakangan ini, suara mahasiswa kembali menggema di berbagai titik ibu kota. Mereka turun ke jalan menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah, menuntut keadilan, dan mengingatkan para pemimpin akan janji-janji reformasi.

Yang menarik, aksi kali ini terbilang lebih tertib. Tidak ada pembakaran ban, tidak ada perusakan halte atau fasilitas umum. Mahasiswa tampak sadar bahwa esensi protes bukanlah pada rusaknya properti, melainkan pada sampai tidaknya pesan kepada para pengambil kebijakan.

Dalam Islam, menyuarakan kebenaran di hadapan pemimpin yang zalim bahkan disebut sebagai jihad paling utama. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah kalimat adil (yang disampaikan) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Hadis ini memberi legitimasi bagi siapa pun yang bersuara melawan ketidakadilan. Namun pertanyaan pentingnya: bagaimana cara menyampaikan “kalimat adil” itu agar efektif dan tetap dalam koridor adab?

Nabi mengajarkan bahwa nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari agama itu sendiri:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ… لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

Artinya: “Agama adalah nasihat… bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan masyarakat umum.” (HR Muslim)

Artinya, mengkritik pemimpin bukanlah tindakan makar atau pembangkangan, melainkan bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral. Tapi di sinilah letak tantangan terbesar: bagaimana mengkritik tanpa menghina, menyampaikan fakta tanpa menyebar kebencian?

Media Sosial yang Kasar

Yang terjadi di ruang digital seringkali berbeda. Media sosial menjadi ajang penyampaian kritik paling massif, tapi juga paling carut-marut. Narasi-narasi tajam, hinaan personal, bahkan makian kepada pemimpin sering kita temukan dengan mudah.

Netizen merasa berani di balik layar, melontarkan diksi yang tidak pantas: menyebut pemimpin bodoh, korup tanpa bukti, atau bahkan mendoakan keburukan. Inilah yang membedakan kritik bernilai ibadah dengan kritik yang justru berdosa.

Di jalanan, para mahasiswa kini lebih piawai memilih kata. Spanduk bertuliskan tuntutan kebijakan, bukan hinaan personal. Orasi yang mengedepankan data dan fakta, bukan umpatan. Ini adalah perkembangan yang patut diapresiasi. Sebab Allah telah mengajarkan metode dakwah yang sempurna dalam QS An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.”

Hikmah berarti menyampaikan dengan tepat sasaran, memilih waktu dan tempat yang tepat. Mau’izhah hasanah berarti nasihat yang baik, bukan cacian. Dan jadilhum billati hiya ahsan—berdebat dengan cara yang terbaik, bukan dengan cara yang merendahkan. Inilah yang harus menjadi pedoman bagi siapa pun yang hendak mengkritik, baik di jalanan maupun di linimasa media sosial.

Produktivitas dan Daya Saing

Selama ini, kritik mahasiswa kerap terfokus pada isu-isu prosedural atau kasus-kasus korupsi yang sifatnya insidental. Lebih dari sekadar isu prosedural harian, ada persoalan struktural yang jauh lebih mendesak. Persoalan bangsa yang paling fundamental adalah rendahnya produktivitas dan daya saing.

Kita berdiri sebagai bangsa pada 1945, lebih dulu merdeka dari Tiongkok yang baru memproklamasikan kemerdekaannya pada 1949. Namun fakta pahit menunjukkan, negara yang kita tinggali ini terus tertinggal, sementara Tiongkok melesat menjadi raksasa ekonomi dan teknologi dunia.

Apa yang membuat Tiongkok melonjak begitu cepat? Jawabannya sederhana: kepemimpinan dengan visi jangka panjang dan kebijakan yang tepat di sektor ekonomi dan pendidikan.

Mereka membangun infrastruktur riset, memprioritaskan sains dan teknologi, menciptakan ekosistem industri yang kompetitif. Semua itu tidak terjadi dalam semalam, itu adalah hasil dari perencanaan matang selama puluhan tahun, yang dibuat oleh para pemimpin yang berani mengambil keputusan besar dan konsisten menjalankannya.

Inilah yang jarang menjadi sorotan para pengkritik. Kita sibuk mempersoalkan hal-hal kecil dan sesaat, sementara kehilangan fokus pada masalah besar: mengapa lulusan kita sulit bersaing di pasar global? Mengapa riset kita masih minim? Mengapa sektor manufaktur kita mandek? Ini adalah kemungkaran struktural yang lebih layak menjadi sasaran amar ma’ruf nahi munkar dibanding sekadar protes terhadap kenaikan harga atau kebijakan teknis lainnya.

Mahasiswa, sebagai agen perubahan, seharusnya tidak hanya menjadi “polisi” yang mengawasi setiap langkah pemerintah, tetapi juga menjadi “arsitek” yang menawarkan gagasan. Kritik yang hanya berhenti pada penolakan tanpa solusi adalah setengah perjuangan. Kritik yang disertai riset, data, dan rekomendasi kebijakan itulah yang akan didengar, bahkan oleh pemimpin yang keras kepala sekalipun.

Nasihat Penuh Kelembutan

Para ulama klasik seperti Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa keluar menentang penguasa dengan kekerasan atau makar justru sering menimbulkan kerusakan lebih besar daripada kemungkaran yang hendak dihilangkan. Ini bukan ajakan diam, melainkan ajakan untuk lebih cerdas dan strategis.

Nasihat yang disampaikan dengan lembut, sebagaimana Musa dan Harun diperintahkan berbicara kepada Fir’aun, lebih mungkin membuka hati daripada amarah yang meledak-ledak.

Di era keterbukaan ini, kritik publik adalah keniscayaan. Namun esensi amar ma’ruf nahi munkar adalah islah (perbaikan), bukan ifsaad (kerusakan). Di jalanan, para mahasiswa telah membuktikan bahwa protes bisa berlangsung tanpa anarki. Di media sosial, kita pun harus membuktikan bahwa kritik bisa disampaikan tanpa fitnah dan ujaran kebencian.

Mari jadikan suara kita sebagai nasihat yang membangun, bukan hujatan yang memecah belah. Mari tuntut pemimpin kita untuk memiliki visi besar seperti yang dimiliki para pemimpin bangsa-bangsa maju, dan mulailah dengan kritik yang cerdas, beradab, dan berorientasi pada masa depan bangsa. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search